Catatan Seorang Chef Bagian Ke 2

Posted: 29 September 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

A

CASUAL ATAU SPECIAL..?
Hampir delapan tahun berdomisili di Kuala Lumpur, ada sesuatu yang telah menjadi kebiasaan saya, mengamati penyambutan kunjungan kenegaraan pemimpin dunia ke negeri jiran tersebut..!
Bukan karena saya orang hebat atau orang penting, tapi karena kebetulan salah satu hotel kami selalu menjadi pilihan terpercaya dari pihak kantor perdana menteri untuk menjamu kehadiran tamu-tamu VVIPnya.

Saya sudah hapal, pemimpin negara-negara mana saja yang akan disambut langsung secara hangat oleh sang PM di airport, kemudian diantar menemui Raja Agong di istana negara, atau hanya disambut oleh sang menteri, kemudian bertemu PM di kantornya yang di Putrajaya.

Alhamdulillah, sebagai orang Indonesia, saya bangga karena ternyata orang Malaysia sendiri menyadari akan hal itu.
Mereka cukup tercengang ketika menyaksikan pesawat kepresidenan RI1 ternyata jauh lebih mewah dari pesawat sejenis yang dimiliki Malaysia. Mereka juga akhirnya sadar, bahwa Malaysia sangat memandang penting Indonesia, terlihat dari pelayanan yang diberikan sang PM, yang rela berpanas-panasan menyambut Presiden RI turun dari tangga pesawat.
Dan satu lagi yang amat mencolok adalah adanya sekelompok pasukan khusus yang selalu menjaga perempatan jalan yang akan dilewati oleh mobil kepresidenan RI1.
Hal serupa hanya terjadi saat penyambutan presiden Barack Obama, yang lainnya, biasa aja tuh..! Hehehe..!

HACHIKO(baca; Hai JK) MONOGATARI
Hachiko Monogatari adalah sebuah judul film yang diangkat dari salah satu cerita rakyat terkenal masyarakat Jepang. Cerita dalam film ini mengisahkan tentang seekor anjing yang setia terhadap majikannya..!
Ada dua versi yang pernah saya tonton, yakni versi Jepang dan Hollywood. Namun demikian, saya lebih menyukai versi Hollywoodnya, mungkin karena faktor bahasa. Yang versi Jepang, saya tonton bersama ibunda di salah satu bioskop di Tokyo sekitar tahun 1987.
Kala itu saya baru pertama kali menginjakkan kaki di negeri Matahari Terbit tersebut. Sedih, terharu dan sangat menyesakkan dada tatkala menyaksikan seekor anjing yang begitu setia dengan tanpa memperdulikan panas terik matahari, angin bahkan badai salju..!
Tak terasa saat itu saya sempat menitikan air mata. Sungguh, sesuatu yang tidak pernah saya alami tatkala menyaksikan film-film sedih di Indonesia, seperti Ratapan Anak Tiri, Ari Anggara, atau salah satu film yang dibintangi Sophan Sopian bersama Widyawati dan Ryan Hidayat.

Kenangan itu terus membekas dalam ingatan saya dan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan usia saya. Saya menjadi sangat sensitif manakala mendengar kata setia atau loyal..!
Saya terobsesi untuk menjadi pribadi yang setia, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Hachiko. Hachiko telah memberi dan menjadi sebuah inspirasi..!

Suatu ketika, saat keluarga kami pindah ke Bandung, sahabat ayahanda di Perancis menghadiahkan saya seekor anjing jenis douberman, saya membayangkan dan memperlakukannya seperti Profesor Ueno memperlakukan sang Hachiko.
Karena kami adalah keluarga muslim, tentu ada sedikit batasan yang harus kami patuhi. Namun kecintaan kami tetap utuh. Pun demikian dengan anjing kami yang selalu menunjukkan kesetiaannya setiap saat. Kami sama-sama saling belajar tentang arti peduli, cinta, kasih sayang, dan tentu saja kesetiaan itu sendiri..!

Tahun 2009, ketika saya liburan ke Amsterdam, saya kembali menyaksikan film yang sama, namun kali ini versi Hollywood yang dibintangi oleh idola saya, Richard Gere..! Hehehe..!
Di awal cerita terasa ganjil, karena ada sedikit perbedaan. Jika dalam versi Jepang, Hachiko digambarkan sebagai anjing pemberian, maka di versi Hollywood, Hachiko diplot sebagai anjing yang tersesat di stasiun kereta api dan ditemukan oleh Profesor Ueno(Richard Gere).
Namun alur berikutnya tetaplah setali tiga uang, alias sama dan serupa..!

Kebetulan kemarin di status FB saya membahas tentang kunjungan kenegaraan presiden Jokowi ke Malaysia. Tak ayal, puluhan inbox pun datang bertubi-tubi. Semuanya berisi hujatan dan umpatan pada sang presiden..! Sempat tercengang, padahal sebelumnya, merekalah yang justru menghujat saya ketika memutuskan untuk golput saat pemilu dulu.
Mereka mengatakan bahwa golput sama dengan mempertahankan status quo..!
Pertanyaan balik saya waktu itu, status quo yang mana, bukankan jabatan presiden dibatasi hanya untuk dua periode..? Jadi meskipun saya memilih atau tidak, bahkan harus mati sekalipun, rezim pasti akan tetap berganti, bukan..? Suara saya bukanlah sebuah kewajiban, tapi hak yang didasari oleh sebuah kepercayaan. Jika kita tidak punya rasa percaya, mengapa kita harus terpaksa memberikan suara..? Bukankah kita bangsa yang merdeka..?

Sahabat saya kebanyakannya kecewa terhadap sang Presiden karena beliau lebih setia pada pemilik partai yang mengusungnya.
Mendengar kata setia, lagi-lagi saya teringat akan kesetiaan sang anjing Hachiko..!

Membayangkan seandainya KESETIAN yang dimilikinya diabdikan pada RAKYAT INDONESIA , tentu betapa indah dan mulianya kesetiaan itu. Bangsa ini masih dan sangat memerlukan pribadi-pribadi yang setia dan penuh cinta, untuk terus bangkit dan membangun kebesarannya..!

Semoga nilai kesetiaan sejati masih dimilikinya dan terus memenuhi ruang hatinya..!

Jika tidak, haruskah kita mengajarinya dari seekor anjing..? Oooooh..! Semoga tidak sampai demikian..!

Salam..

PANGGUNG KERAMAT

Hahaha..!
Mereka lupa, jika di bawah panggung itu ada kita..!
Mereka alfa, jika panggung itu milik kita..!
Mereka terlena, dengan gebyar cahaya yang ada..!
Mereka bermimpi pertunjukan ini tak akan berhenti..!
Mereka menyangka segalanya akan abadi..!

Tapi tahukah tentang kami di sini, di bawah panggung ini..!
Ujung linggis berkilau kelimis, berpadu pisau, parang dan belati..!
Keranjang sampah, keranda dan peti mati
Semua telah sedia dan setia menanti
Aku akan menjagamu, bisa juga menjagalmu
Jangan hiraukan, andai kau masih setia dan kukuh pada janjimu..!
Aku disini, di bawah panggung ini..!

Sumber

Komentar ditutup.