Catatan Seorang Chef Bagian Ke 3

Posted: 29 September 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

A

CRIMEA : Paradoks Eropa
Terima kasih Putin, karena telah mengajari kami tentang bagaimana menjaga keteguhan dan keyakinan atas kedaulatan yang kita miliki..! Tegarmu adalah suar bagi dunia..!

Hari ini dunia dikejutkan oleh sikap Germany dan French yang terang-terangan menolak kehendak US untuk meningkatkan kekuatan militer mereka di perbatasan Ukraina dan Russia.
John Kerry yang selama ini begitu yakin akan berhasil menggoalkan inisiatif Pentagon, harus rela kembali dengan menanggung rasa malu yang tiada tara.
Bagaimana tidak, Germany, sang sekutu pentingnya di Eropa, alih-alih menerima idenya, mereka justru menolak dan bahkan berbalik mengajari bagaimana menanam perdamaian di benua biru, Eropa..!
Bahkan secara terang-terangan, Merkell menyatakan sikapnya untuk beroposisi dengan kongres US..!

Pun dengan Perancis, yang sebelum ini telah turut mengakomodir keinginan NATO dengan membatalkan pengiriman kapal yang dipesan oleh Angkatan Laut Russia, kini bahkan dengan sangat lantang mengumumkan pada dunia bahwa negeri anggur itu secara tegas akan berada bersama Putin dalam menjaga perdamaian di Eropa.
Perancispun dengan rela telah menawarkan Cyprus untuk ditempati Russia sebagai pangkalan udara mereka..! Sungguh sebuah dinamika yang sebelum ini sangat sulit dibaca..!

Di hadapan para petinggi dan pers Yunani, Putin mengajak semua bangsa Eropa untuk lebih fokus menangani kemerosotan ekonomi yang melanda mereka, ketimbang harus menciptakan konflik yang dinilainya sangat tidak pantas..!
Putin menegaskan bahwa konflik yang ada saat ini semuanya berawal dari kerakusan dan ketidakpatuhan bangsa Barat terhadap sumpah yang pernah disampaikannya saat pembubaran Uni Soviet dan Pakta Warsawa, dimana sebelumnya bangsa Barat/NATO telah bersumpah untuk tidak memperluas wilayah dan pengaruhnya ke atas wilayah bekas Uni Soviet dan Pakta Warsawa, serta tidak akan memaksa mereka memilih untuk menjadi bagian dari NATO atau Russia..!

Dusta inilah sesungguhnya yang telah menyulut persengketaan di belahan Eropa Timur..!
Kini dengan munculnya sikap tegas dari Germany dan Perancis, akankah US mengendurkan ambisinya untuk menumpuk kekuatan di Ukraina..? Hehehe..!

Senada Dengan keterangan Sang Chef
ada sedikit berita :
Rusia Berencana Gunakan Pelabuhan dan Bandara Siprus bagi Keperluan Militer
Moskow dan Nikosia tengah bernegosiasi mengenai kemungkinan penggunaan bandara dan pelabuhan Siprus untuk menempatkan pesawat dan kapal perang Rusia, yang akan digunakan dalam situasi darurat dan operasi kemanusiaan. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Republik Siprus Nicos Anastasiades pada TASS, Senin (9/2), sebelum kunjungannya ke Rusia.
Dalam wawancara eksklusif, Anastasiades menyampaikan pada Wakil Pertama Direktur Jendral TASS Mikhail Gusman bahwa kedua negara akan memperbaharui perjanjian militer bilateral mereka.
Berdasarkan beberapa laporan media sebelumnya, Rusia dituduh hendak mendirikan markas militer di Siprus.
Menanggapi hal ini, para pakar menilai Rusia tidak membutuhkan pangkalan militer di Siprus, terutama mengingat iklim ekonomi Rusia saat ini. Hal tersebut disampaikan mantan kepala divisi perjanjian internasional Kementerian Pertahanan Rusia Letjen Yevgeny Buzhinsk.
“Tentu, kita tidak membutuhkan pangkalan militer di sana, terutama mengingat kondisi ekonomi saat ini,” ujar Buzhinsky kepada Interfax-AVN, Senin (9/2).

ERA BARU KERJASAMA INDONESIA-JEPANG
Setahun lalu, sepulangnya dari Jepang, saya pernah membuat sebuah artikel di Jakarta Greater, yang isinya tentang outlook kerjasama antara Indonesia dan Jepang. Waktu itu reaksi teman-teman masih sumir, mungkin berita itu dinilainya terlalu premature. Tapi biarlah, yang lalu biarlah berlalu..!

Menurut agenda di KBRI Tokyo, bulan Maret mendatang akan diselenggarakan pertemuan lanjutan antara pemimpin Indonesia dengan pemimpin Jepang. Sebelumnya, SBY telah membuka keran kerjasama ini bersama mitranya dari Jepang, Shinzo Abe..!
Dalam kesepakatan terdahulu, diketahui bahwa kita telah menyepakati kerjasama di bidang pertahanan yang menyangkut tentang kerjasama latihan dan pendidikan militer, inteligent, kontra terorisme, penanggulangan bencana dan pengembangan industri strategis, serta pengendalian keamanan laut..!

Di tahap awal tersebut, pihak Jepang telah menghibahkan beberapa unit kapal patrolinya. Untuk hal ini, saya sendiri tidak ingin berkomentar banyak, untuk menghindari kondisi yang akan semakin simpang siur..! Hehehe..! Maaf..!
Pada pertemuan kedua nanti, masing-masing pihak sudah menemukan dan menentukan point-point vital yang akan segera digoalkan untuk segera direalisasikan. Prinsipnya tentu saja saling menguntungkan..!

Kita ketahui, Jepang termasuk pemimpin teratas dalam penguasaan teknologi dunia. Namun nasibnya tidak sebebas Amerika dan negara-negara Eropa lainnya.
Jepang tidak bisa mengeksport produk-produk militer unggulannya. Hal demikian telah dipandang sebagai sebuah tantangan oleh Jepang, bukan lagi sebuah kekangan. Begitupun dengan cara pandang Indonesia, hal ini adalah sebuah peluang keemasan yang tidak boleh diabaikan..!
Bak gayung bersambut, akhirnya kedua belah pihak saling membuka diri.
Kini Jepang secara resmi bersedia merangkul Indonesia sebagai basis produksi industri militer Jepang dengan tujuan eksport.

Untuk mewujudkan hal itu, Jepang akan memulainya dari matra udara. Indonesia menyodorkan PTDI sebagai pembuka jalan, namun belum dipastikan perusahaan dirgantara Jepang mana yang akan ditandemkan, apakah Mitsubishi, Honda atau Kawasaki..?
Dilihat dari skema kerjasamanya, sangat menggiurkan karena meliputi kerjasama riset dan produksi serta permodalan..! Sebuah peluang dan tantangan untuk menjadikan PTDI sebagai perusahaan dirgantara raksasa global dari Asia..!

Doa dan harapan saya, semoga jalan ke arah itu tidak menemukan banyak rintangan..! Sudah saatnya kita bangkit bersama dari keterpurukan..! Jika Jepang menyebut dirinya sebagai negeri Matahari Terbit, maka kita adalah negeri Jamrud Khatulistiwa..! Kita bisa saling bersinergi, menyinari dan menghangatkan bumi..! Selamat dan Jayalah Indonesiaku..!

SIAPA BELAJAR DARI SIAPA..?
Di akhir masa kepemimpinannya, baik pak SBY maupun Tun Abdullah Ahmad Badawi, banyak dicaci oleh warganya sendiri. Seringkali dinilai sebagai pemimpin yang lembek, lamban, plin-plan, tidak tegas, dan menjadi penyebab mandegnya pertumbuhan ekonomi negara..!
Keduanya memang tidak pernah menyatakan perang..! Tapi benarkah keduanya juga takut akan perang..?
Mari kita lihat kiprahnya dalam memimpin..!
SBY adalah seorang jenderal intelek, dengan menyandang gelar doktor..! SBY juga tentu saja seorang prajurit sejati, bahkan kemampuannya bukan saja diakui, tetapi juga digunakan oleh PBB untuk menengahi dan menyelesaikan konflik Kosovo..! Konflik di Aceh, Poso dan Ambon pun tak lepas dari sentuhan tangan dinginnya..!
Ketika kemelut Ambalat mencuat pada 2005, SBY pun tampil sebagai pemimpin yang berkarakter cerdas, berdiri paling depan di perbatasan Indonesia-Malaysia, lengkap dengan seragam militer menatap ke arah wilayah Malaysia..! Lagi-lagi, tidak ada ajakan berperang yang keluar dari mulutnya..!
Namun efek yang dirasakan baik secara langsung atau pun tidak langsung, adalah adanya penurunan tensi ketegangan, dan bahkan bisa dikatakan pulih atau reda. Sepulangnya ke Jakarta, tanpa banyak bicara, beliau menggulirkan ide modernisasi alutsista TNI melalui program MEFnya..!
Nun jauh di seberang sana, adalah Tun Abdullah Ahmad Badawi..! Pemimpin Malaysia yang selalu dipandang sebelah mata karena dinilai tidak memiliki trah kebangsawanan Malaysia, menjabat PM sebagai suatu hal yang kebetulan, dan selalu dinilai tidak memiliki keberanian, apalagi setelah kasus Limbang terkuak, segenap rakyat Malaysia meradang dan mengutuk kepemimpinannya..!
Pemimpin super alim yang dilahirkan dari keluarga alim ulama terkemuka Malaysia ini harus rela menampung kebencian rakyatnya atas kehancuran ekonomi yang diderita Malaysia..! Padahal sesungguhnya kehancuran itu adalah warisan yang harus dia terima dari rezim sebelumnya..!
Dalam keterpurukan, ketegangan antara China-Malaysia di Laut China Selatan tiba-tiba mencuat..! Tun Abdullah Ahmad Badawi yang sebagaimana SBY selalu bersikap tenang dan mengedepankan tindakan-tindakan yang lebih rasional serta berhati nurani, seketika mampu mengalahkan keberanian para jenderal-jenderalnya..! Berlayar ke Swallow Reef dengan tanpa mempedulikan hunusan canon dan meriam China, Tun Abdullah Ahmad Badawi telah berhasil memperlihatkan karakter dan identitas bangsanya di mata China..! Pasca kunjungan tersebut, ketegangan antara China-Malaysia pun mereda..! Bukan hanya itu, sejak 2009, tercatat kunjungan para pemimpin militer Malaysia ke Indonesia pun kian kerap dilakukan..!
Nilai positif yang bisa kita ambil dari gaya kepemimpinan keduanya adalah soal kelembutan dan ketenangan..! Dari sikap ini bisa didapatkan berbagai kepututusan dan tindakan-tindakan yang lebih rasional..! Di sebalik kelembutan dan ketenangan, jangan sesekali menganggap tidak pernah ada keberanian..! Keberanian yang sejati adalah kemampuan mengkalkulasi setiap kelemahan dan ketakutan yang dimiliki..! Tenang adalah sebuah seni..!

ISENG
Iseng aja, nanyain warga Germany di Kuala Lumpur yang kebetulan lagi kongkow..!
Kenapa German sekarang sangat berbeda dengan German pada dekade 80-90an, cenderung lebih relax dan menghindari perang..?

Jawabannya cukup menggelikan, katanya dulu kami suka berperang dan aktif di NATO karena dulu kami sangat mengharapkan NATO bisa mengembalikan Berlin. Kini Berlin sudah kembali ke pangkuan kami, jadi untuk apa lagi kami harus berperang..?
Memperbaiki ekonomi dan mengejar ketertinggalan kami, adalah fokus kami yang jauh lebih berarti..!
Gila bener..! Negara semaju Germany aja masih punya rasa bahwa ketertinggalan itu masih menghantui..! Bagaimana dengan negara kita..? Hehehe..! Yuk semangat lagi..!

Sumber

Komentar ditutup.