Catatan Seorang Chef Bagian Ke 37 (DARI MADU DAN RACUN, HINGGA KE KERTAS DAN BATU BARA, KITA PUNYA..!)

Posted: 18 Oktober 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

A

DARI MADU DAN RACUN, HINGGA KE KERTAS DAN BATU BARA, KITA PUNYA..!

Sering terharu bila melihat postingan seorang sahabat yang sering menampilkan aktifitas mobil pintar di daerahnya. Dan lebih terharu manakala melihat antusias anak-anak didiknya yang begitu tinggi terhadap berbagai bahan bacaan..!

Saya telah menjelajahi hampir seluruh wilayah di negeri tercinta Indonesia. Saya juga beruntung karena pernah mengenyam pendidikan dan kehidupan di kota Bertuah, Pekanbaru-Riau, tempat dimana kertas-kertas yang saat ini mungkin sedang berada dalam genggaman anda itu berasal. Di negeri Riaulah, perusahaan kertas dan bubur kayu terbesar dunia berdiri. Jangan tanya bagaimana rusak dan remuknya wajah hutan di negeri yang kaya akan minyak bumi ini. Nasib yang hampir sama juga dialami oleh negeri-negeri lainnya di Kalimantan. Bedanya, karena SDA Kalimantan yang paling dominan adalah mineral dan hasil tambang serta galian, maka bopeng di wajah bumi Kalimantan mungkin lebih parah..!

Mari kita renungkan..!
Dari Riau kita telah mampu menghasilkan bubur kayu dan kertas yang melimpah..! Namun nyatanya, kita masih kekurangan begitu banyak buku dan bahan bacaan di sekolah-sekolah dan perpustakaan.
Ini bukan omong kosong, saya adalah salah-satu saksinya. Dulu sewaktu sekolah, saya sering berbohong pada ibunda bahwa buku saya hilang, semata-mata karena ingin menolong teman-teman lain yang tidak terbeli buku. Hingga akhirnya kebohongan itupun terbongkar, dan kemudian ibunda selalu menyengajakan diri untuk membeli buku keperluan saya dalam jumlah yang lebih.

Pun dengan nasib koran-koran bekas yang menumpuk di rumah. Beberapa teman selalu berpesan agar jangan membuang koran-koran bekas itu. Semula saya percaya dengan alasan teman saya yang konon kertas itu untuk ibunya yang berjualan di pasar. Setelah bertemu dengan ibunya secara langsung, beliau bercerita bahwa sejak anaknya kalah dalam persaingan ranking di kelas dari saya, kini menjadi sangat rajin membaca koran-koran bekas dan majalah yang saya berikan. Beliau sangat berterima kasih, karena dari koran itu pulalah anaknya bisa menjawab pertanyaan akhir dalam sebuah ajang lomba cerdas cermat yang diikutinya. Dengan lantang dan penuh percaya diri, dia menyebut nama Pangdam III Siliwangi saat itu, Mayjend TNI Arie Sudewo..! Hehehe..! Bangga dan terharu banget..!

Kini, setelah sekian tahun berlalu, ternyata kekurangan akan pemenuhan kebutuhan buku-buku pelajaran dan ilmu pengetahuan itu masih berlangsung. Tentu bukan kesalahan si pemilik pabrik kertas dan bubur kayu terbesar itu..! Tapi setidaknya, sudah saatnya kita merasa malu dan terdorong untuk berpikir lebih kreatif agar mampu mengubah setiap kertas yang kita hasilkan menjadi buku-buku dan bahan bacaan serta sumber pengetahuan yang lebih bermanfaat. Di tangan bangsa yang konsumtif, mungkin kertas-kertas itu hanya akan menjadi sebatas komoditas. Tapi di tangan bangsa yang kreatif, kertas itu akan dan harus menjadi bahan bacaan dan sumber ilmu pengetahuan yang berkualitas..! Sungguh, sebuah tantangan yang tidak kalah besar..!

Kita adalah pengekspor batu bara terbesar di dunia..! Dan kita juga dilimpahi oleh sinar matahari, angin dan panas bumi yang jumlahnya juga amat besar..! Namun nyatanya, hingga kini, negeri ini masih kekurangan energi listrik. Beberapa kota bahkan seringkali mengalami pemadaman lampu..! Jangan tanya daerah pelosok, yang mungkin lebih sering padam, atau jangan-jangan belum ada listrik sama sekali..! Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati..! Semoga kelak, kita semua akan terbuka dan terketuk hatinya akan segala kekurangan yang masih ada. Mari kita membenahinya bersama..!
Saya yakin, kita pasti bisa..! Indonesia pasti jaya..!
Ada banyak hal yang di negeri sendiri dianggap biasa, namun sesungguhnya, di mata dunia amatlah luar biasa. Saya adalah salah-seorang diantara saksi yang ada..! Apakah anda juga menyaksikannya..?

SEMALAM DI KUALA LUMPUR

Perjalanan rally bagi saya sudah menjadi warna kehidupan dan pekerjaan. Jangan tanya bagaimana capek dan lelahnya perjalanan ini, karena rasa itu sudah pasti dimiliki oleh siapapun. Namun yang menjadi tantangannya adalah bagaimana kita mampu bertahan dalam kelelahan dan kebosanan yang seringkali datang membelenggu..? Hehehe..! Terkadang justru inilah yang membuat saya merasa bahwa Tuhan telah dan akan selalu datang untuk memanjakan..!

Tadi pagi saya meeting di Kuala Lumpur, siangnya masih sempat istirahat, dan kini sudah standby di KLIA untuk kembali ke sarang baru saya di tempat nun jauh di sana. Ada sedikit yang membuat saya sedikit berat melakukan perjalanan kali ini. Sewaktu meeting tadi, entah sengaja atau kebetulan, posisi duduk 9 orang manager perusahaan itu dibuat berhadap-hadapan dengan saya. Tentu saja saya merasa terhenyak karena kesembilan orqng manager itu dulunya adalah mantan assistant saya. Delapan tahun yang lalu, bahkan beberapa diantaranya ada yang menolak untuk menjadi assistant saya..! Maklum, saya hanya orang Indonesia..! Mungkin kurang membanggakan jika ada sahabat mereka yang menanyakan tentang atasannya..! Hehehe..! Jujur, kenangan itu tidak mudah luntur dari ingatan saya. Tapi sudahlah, karena nyatanya kemudian mereka mampu menjadi sahabat, anak buah dan adik angkat saya..! Begitulah mereka membahasakan saya pada sahabat dan keluarga-keluarganya, konon saya adalah abang angkat mereka..! Tersanjung..! Terima kasih untuk semuanya..!

Ya, kini 9 dari 28 manager yang hadir dalam meeting tersebut adalah mantan anak buah saya. So far, saya termasuk individu yang dinilai cukup produktif dan sukses menelurkan manager-manager baru yang berkualitas dan mampu menjadi andalan perusahaan. Tentu saja kebanggan itu bukan hanya milik saya, tetapi juga milik boss saya yang selama ini tidak pernah lelah meyakinkan semua pihak akan potensi dan kemampuan saya, bahkan tidak jarang harus pasang badan untuk saya demi mempertahankan keberadaan saya..! Ini juga membuat saya amat tersanjung, dan terima kasih..!

Seusai meeting, saya bermaksud menikmati kopi di lobby area, betapa kagetnya saya karena disana puluhan keluarga dan kerabat dari manager-manager itu telah menunggu kehadiran saya. Rupanya issu pengunduran diri saya sudah merebak luas, dan konon pula mereka tak ingin kehilangan saya..! Ah, terasa betapa sesaknya nafas di dada ini…! Bagi mereka ternyata saya telah menjadi abang yang baik, adik yang baik, anak yang baik, paman yang baik, guru yang baik dan pemimpin yang baik..! Hehehe..! Lagi-lagi hati ini merasa tersanjung..! Terima kasih, semoga semua ucapan itu menjadi doa yang baik buat saya..! Aamiin..!

Ketika mereka menanyakan akan menjalani profesi apa setelah kembali ke Indonesia, saya kembali menjawab dengan jawaban lama saya, bahwa saya akan menjadi gubernur..!
Hahaha..! Mereka terbahak, jawaban itu sudah lama mereka dengar, maklum selama ini saya selalu menjadi orang yang terlibat langsung dalam beberapa jamuan kenegaraan beberapa pemimpin negara di dunia yang sedang melawat ke Malaysia dan beberapa negara Asean lainnya. Untuk memupuk rasa percaya diri pada setiap diri anak buah saya, saya sering mendorong mereka untuk tumbuh dan berperan sebagai seorang pemimpin yang minimal menduduki posisi sebagai gubernur..! Dari sanalah, panggilan sebagai calon gubernurpun menjadi kian melekat dan menjadi trademark diri pribadi saya. Semoga diantara kalian ada yang bisa menjadi gubernur betulan..! Aamiin..!

Sekarang disini, di KLIA, saya telah bersiap meninggalkan Kuala Lumpur..! Mega event pada hari Selasa dan Rabu besok, telah menunggu..! Bekerja dari pagi hingga ke pagi, telah menjadi specialisasi saya..! Siapa mampu melewatinya, maka dia akan menjadi manager yang tangguh dan kokoh..! Ucap seorang sahabat, setengah berpromosi..!
Hehehe..! Terima kasih dan sukses selalu..! Salaam…

THANK YOU, JAPAN FINMIN..!

Berawal dari sebuah resignation letter alias surat pengunduran diri saya dari perusahaan tempat saya bekerja saat ini, yang dikirimkan beberapa waktu lalu, ternyata malah berbuntut panjang. Orang-orang dari kantor pusat di Tokyo telah beberapa kali mengirimkan staf-staf seniornya untuk merayu saya agar mengurungkan niat pengunduran diri tersebut. Setelah beberapa lama agak mengambang, saya pikir bahwa segalanya telah usai, dan permohonan saya akan segera dikabulkan, namun ternyata belum..!

Seminggu lalu utusan dari kantor pusat pun datang lagi, kali ini agak nyeleneh. Mereka membawa beberapa staf ahli dari Kementerian Keuangan/Finmin Jepang. Kaget banget, karena semua alasan pengunduran diri saya yang selama ini diperdebatkan, ternyata mereka share dengan para ahli keuangan tersebut. Singkatnya, mereka tertarik dengan segala uraian ide dan konsep pembangunan infrastruktur dan ekonomi koperasi modern yang baru rampung saya buat. Mereka sangat berminat dengan berbagai formula yang saya sodorkan. Mereka bilang sangat canggih dan belum pernah ada. Mereka merayu untuk bergabung dalam team mereka, namun saya jawab bahwa semua yang saya pikirkan hanya akan saya abdikan pada bangsa dan negara saya, Indonesia..!

Sepontan, mereka berdiri hormat..! Luar biasa, ternyata sikap nasionalisme di mata orang Jepang adalah sesuatu yang amat mulia dan agung..! Semoga sikap demikian juga akan tumbuh pada diri bangsa Indonesia..! Aamiin..

Beberapa hari ini kami terus membahas berbagai pemikiran dan inisiatif yang mengarah pada terbentuknya dunia yang lebih dan semakin liveable, sebuah visi dan misi mulia yang sedang dibangun oleh bangsa Jepang saat ini. Saya mengerti kenapa mereka menginginkan saya bergabung bersama mereka. Ternyata ada sebuah kesamaan yang amat mendasar dan original diantara kami. Konsep pembangunan ekonomi koperasi modern yang saya paparkan, dianggapnya sangat layak untuk dijadikan sebagai tulang punggung bagi misi mulia mereka. Yang membuat terharu, mereka mengungkapkan segala harapannya dengan diiringi isak tangis dan derai air mata..! Ah, andai saja pejabat di Indonesia memiliki jiwa, hati dan perasaan seperti mereka disaat menyusun berbagai kebijakan untuk rakyat, betapa indahnya negeriku..!

Setiap hari dirayu, dan setiap hari pula saya menepisnya dengan alasan yang sama, akhirnya barusan mereka menawarkan kerjasama dan berbagai bantuan jikalau kelak saya telah memulai menerapkan ide-ide saya. Bahkan diujung pembicaraan, mereka juga bersedia menerima saya dalam team mereka, sekiranya nanti merasa diabaikan oleh pemerintah Indonesia..! Hehehe…
Terima kasih Finmin….

Sumber

Komentar ditutup.