Catatan Seorang Chef Bagian Ke 5

Posted: 18 Oktober 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

A

BENDERA PUTIH ATAU KAIN PUTIH..?
Good bye FIR..!
Berat dan sesak rasanya nafas di dada ini, saat mengetahui bahwa Menhub Ignatius Jonan tidak tertarik untuk segera mengambil alih control atas wilayah udara Kepulauan Riau. Isu strategis yang sudah disiapkan sejak era SBY ini pun seakan antiklimaks dan hampir bisa dipastikan bahwa Indonesia akan tetap memberikannya pada Singapore..!

Jonan yang dulu sangat jauh berbeda dengan Jonan yang sekarang. Tidak ada lagi optimisme yang menggebu, tidak ada lagi semangat yang membara, yang tinggal hanyalah ketidakberdayaan dan kehampaan. Lahir dan besar di negara yang besar, ternyata tidak cukup untuk membuat para menteri kita berjiwa besar dan bercita-cita besar..! Semua menjadi seperti sedang tersesat di rumah sendiri yang memang sangat besar..!

Ironisnya, alasan ketidakmampuan terhadap sumber daya dan dana, selalu muncul ke permukaan dan menjadi alasan klasik yang cenderung menjadi tradisi klenik. Sesuatu yang amat tidak pantas dan ketinggalan zaman. Kecerdasan ternyata tidak mampu melahirkan keberanian dan ketegasan. Ataukah memang di negeri kita sudah tidak ada tempat bagi tokoh-tokoh yang nekad..? Semua telah lupa dengan sejarah bangsa..!

Kemerdekaan kita bukan diraih saat negeri dalam masa keemasan.
Bangsa kita dibangun bukan dengan harta yang bergelimangan. Kita bangkit dan berdiri hanya bermodalkan semangat dan keberanian. Nyatanya kita mampu tegak berdiri, bahkan mampu menangkis setiap rintangan dan serangan yang datang menghalau dan menghalang..! Tekad kita sudah bulat, yakni merdeka dan berdaulat..!
69 tahun, bukanlah waktu yang sebentar untuk melakukan pembiaran terhadap kedaulatan wilayah udara Kepulauan Riau.
Dilihat luasannya, memang tidak seberapa jika harus dibandingkan dengan luas wilayah udara Republik Indonesia. Tapi Jonan telah mengabaikan rasa kebanggaan yang seharusnya dimiliki dan menjadi hak bagi rakyat Kepulauan Riau khususnya, atau bahkan rasa kebanggaan nasional pada umumnya..! Jonan telah melupakan sejarah..!

Di bumi Riaulah pendahulu kita pernah kelimpungan, kelabakan, hingga berdarah-darah..! Dari bumi Riaulah 65% minyak nasional pernah dihasilkan. Jika alasan pengabaian FIR ini kembali disebabkan oleh ketiadaan modal investasi, maka anda salah, pak Menteri..! Jika karena alasan ketiadaan sumber daya manusia yang mumpuni, maka rasanya andapun telah menistai dan menodai bangsa sendiri, menganggap bangsa sendiri selalu lebih rendah dari bangsa lain. Anda silau akan bintang, padahal anda lupa bahwa kitalah matahari.
Seandainya anda sedikit mau merendah dan membuka diri dengan masyarakat Riau, sebenarnya apa yang anda perlukan sangatlah tidak seberapa nilainya. Dengan minyak, sawit, perikanan dan pariwisatanya, Riau bisa dan mampu merebut atau mungkin membeli FIR yang semestinya kita miliki. Anda sangat terbuka dengan dunia luar, tapi bersikap pura-pura buta terhadap potensi dan kemampuan anak negeri serta negeri sendiri. Demi kedaulatannya, haruskah rakyat Riau kembali melakukan aksi Permesta jilid dua..? JASMERAH..!

FIJI JATUH HATI
Meskipun Australia, NZ atau bahkan PNG terus gencar melakukan pendekatan dengan pemerintah Fiji, namun akhirnya Fiji pun melabuhkan pilihannya pada Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh tokoh militer senior Fiji, Jone Baledrokadroka, yang turut aktif dalam menentukan pilihan partner bagi militernya.
Indonesia menawarkan kerjasama yang natural, dan tidak mengikatnya dengan sebuah keharusan untuk beraliansi.

Selain itu, Indonesia juga adalah negara dengan jumlah militer yang besar, sehingga akan memberikan pengalaman bagi Fiji untuk mengelola sebuah organisasi militer yang lebih komplek. Beliau juga berharap, agar ke depannya, Fiji dan Indonesia bisa terus bekerjasama dan memberikan andil bagi terwujudnya perdamaian dunia, melalui misi-misi perdamaian PBB yang selama ini giat dilakukan oleh Indonesia..! Hal ini diungkapkan saat menyaksikan pengiriman pasukan Fiji gelombang pertama, yang akan mengikuti pelatihan di Indonesia, Jumat pagi kemarin.

JANGAN HINA PAPUA, AKU ADA BERSAMA MEREKA..!
Berperahu dan tenggelam dalam keheningan rawa-rawa, menyusuri celah-celah belukar dan pepohonan, terdampar di suatu titik tanpa berbekal peta dan kompas, adalah kenangan masa kecil di Papua yang tidak akan pernah terlupa.
Papua adalah syurga, karena itu kita selalu merasa dan melihatnya sangat jauh berbeda, meskipun usia kemerdekaan bangsa ini sudah mendekati angka 70, angka yang sepatutnya telah mampu membangun pola pikir kita untuk semakin dewasa.

Orang Papua selama ini selalu diam, tapi bukan berarti mereka bungkam dan tidak merasa.
Kita bukan saja telah mengabaikan, tapi seringkali meremehkan..! Kita telah salah memaknai kecantikan, karena yang diagungkan sekedar kosmetika, bukan jiwa..!
Kita bangga dengan segala kepandaian, dan menganggap mereka ketinggalan. Tapi sadarkah kita, betapa mereka telah menganggap kita sebagai sekelompok manusia yang mengagungkan kepandiran dan sedang menyemai kefakiran..?
Mereka merasa bahwa kita malu dengan keberadaan mereka, tapi justru merekalah yang merasa malu dengan sikap dan ulah kita. Kenapa kita begitu berbangga dan tega menghina mereka? Apakah kita telah menghidupi mereka, atau mungkin telah mengorbankan hidup kita untuk mereka..?
Tidak..!
Mereka bukan sekelompok bangsa yang perlu dikasihani, karena mereka adalah sosok pengasih dan berhati nurani . Mereka bisa mandiri, bahkan jika perlu, mampu untuk melepaskan diri dan memisahkan diri..! Mereka punya hati, jangan pernah coba untuk menyakiti. Hentikan segala perbedaan, sebelum perpecahan benar-benar terjadi. Air mataku telah tumpah di Dili, aku tak ingin menangisi negeri ini untuk kesekian kali. Aku akan mengakhiri dukaku, cukup sampai disini..!

“Kalian adalah Elang, bukan Ayam..!”
Pesan kecil ibunda saat melihat anak-anaknya yang kala itu mulai menginjak ABG, lebih senang baca buku di rumah, daripada nonton atau jalan keluar. Saking risaunya dengan kebiasaan anak-anaknya yang terlalu rumahan, beliau pernah memanggil anak perempuan yang iseng kami godain.
Beliau memberi kesempatan pada anak perempuan itu untuk memukul kami yang dinilainya sangat tidak gentlemen..!
Anak perempuan itu malah tersipu dan merunduk hormat.
Ibunda telah mengajarkan kami tentang bagaimana menghargai dan menghormati perempuan dengan cara terhormat tanpa harus mengorbankan apalagi merenggut kehormatan..! Hahaha..! I love you, Mom..!

Kelak, anak perempuan yang kami godain itu, hadir dan menjadi bagian dari keluarga kami. Dialah kakak ipar kami tercinta..! Hehehe..! Apa kabar, Teh..?
“Lelaki Sexy adalah Lelaki yang Selalu Siap Memberikan Attensi..!”

Kalau yang ini, pesan kecil dari ayahanda. Beliau mendorong anak-anaknya untuk menjadi pendengar yang baik. Beliau sering menyodorkan sosok seorang dokter untuk kami teladani.
Terbayang bagaimana dokter begitu fokus dan penuh ekspresi saat mendengarkan keluhan pasien-pasiennya. Dokter tidak pernah berhenti berusaha untuk mengobati dan menyembuhkan pasiennya, bahkan seringkali menjadi individu yang pertama kali menitikkan sekaligus menghapus air matanya, manakala sang pasien tidak tertolong.

Hal ini pernah dibenarkan oleh seorang dokter, yang kebetulan ayah dari pacar saya dulu..! Jadi lelaki jangan perhitungan, dan harus selalu siap untuk kehilangan..! Hahaha..! Thanks Dad, sangat melengkapi..!
Saya ingin menjadi seperti induk-induk elang, yang tanpa resah menembus belantara dengan lincah, melindungi sang anak dari curahan hujan yang basah, serta ancaman kilat dan badai yang datang membelah. Kasih itu selalu ada dan tumbuh tanpa mengira waktu. Jangan malu menjadi lelaki yang memegang filosofi seorang ibu.

Di mata sang anak, justru lelaki seperti itulah yang akan dipandang sebagai ayah yang gagah. Adapun bagi wanita, bisa jadi hal itu akan menjadi sesuatu yang hanya satu dari seribu.
Lelaki tegar, bukan lelaki yang hanya berbadan dan bersuara besar, tetapi juga siap membereskan rumah berantakan serta cucian piring tanpa gentar..! Si Bibi udah setahun penuh melayani kamu, jadi sekarang udah saatnya dia bercuti dan menikmati kebahagiaan bersama keluarganya. Antarkan dia pulang, anggap dia sebagai ibumu..!

Oh Tuhan, ternyata dari sini saya memulai belajar dan mengenal kemandirian. Ciri lelaki sejati adalah mandiri, bukan doyan mencuri..!

Sumber

Komentar ditutup.