Catatan Seorang Chef Bagian Ke 6

Posted: 18 Oktober 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

A

SALAH-SATU ALASAN YANG MEMBUAT BANGGA JADI ORANG INDONESIA
Tadi waktu makan siang, ada salah-satu customer di salah-satu meja yang sedang dipukuli punggungnya. Semua orang melihat ke arah meja itu. Sebelumnya, kami berpikir bahwa dia keselek karena makanan, namun kemudian kami tahu bahwa dia menghidap penyakit asma.

Letak meja yang berhampiran dengan griller kitchen, sepertinya telah membuat dia terlalu banyak menghirup asap pembakaran dari sate, daging/steak dan seafood. Seketika kami pun agak panik, mengingat tak seorangpun yang membawa obat hirup untuk penderita asma.
Seorang bule mendekat dengan membawa tissu basah yang ditempelkan ke hidung penderita asma itu, kemudian memapahnya ke luar, persis disekitar air mancur dan taman gantung.
Dia menanyakan obat-obatan yang ada dalam kotak P3K kami.
Saya agak ragu untuk menyebutnya, selain obat dari dokter, saya juga menyimpan obat-obatan Indonesia yang dijual bebas.
Salah satu yang saya sodorkan adalah obat Nafa##n. Dia membaca komposisi obat yang tertera di sampulnya, kemudian mengangguk penuh yakin.
Obat itu pun diminumkannya..!

Alhamdulillah, tidak lama berselang, orang itu kelihatan tenang dan dapat tersenyum kembali. Kami pun merasa lega.
Si Bule mengucapkan terima kasih atas obat yang saya berikan.
Dia bilang, hanya di Indonesia, China dan India, kita bisa dengan mudah mendapatkan obat bebas dengan spesifikasi dan specialisasi yang jelas.
Walau sebenarnya kebijakan melepas obat bebas sangat berisiko, namun masih menurut dia, akan lebih berisiko jika negara-negara yang wilayahnya sangat luas tidak memiliki obat bebas.

Rasio antara luasan wilayah dan ketersediaan tenaga medis yang tidak merata, adalah penyebab mengapa obat bebas di Indonesia bisa benar-benar bebas beredar luas dan bisa diterima oleh pasar dan masyarakat.
Untungnya, negara-negara seperti Indonesia, China dan India, selain dianugerahi bahan baku yang melimpah, ternyata juga memiliki banyak tenaga ahli perobatan dan pengobatan yang tak terbilang jumlahnya.
Coba bandingkan dengan negara-negara di Afrika dan Amerika Latin..! Pungkasnya.

Setelah keadaan kembali normal, kami sedikit bercengkerama dan bertukar kartu nama. Betapa terkejutnya saya ketika melihat siapa sesungguhnya bule yang sedang berada di hadapan saya.
Ternyata dia adalah seorang ahli kimia perobatan Inggris dan guru besar di salah satu perguruan tinggi terkemuka.
Saya yakin, apa yang diungkapkannya tentang Indonesia adalah sebuah kejujuran dan ketulusan. Saya bangga..! Thanks Prof..!

MENYEMAI MIMPI
Kami sedang menikmati liburan, ketika suatu pagi ayahanda mengajakku berkuda menuruni perbukitan di area perkebunan milik keluarga. Sesampainya di sebuah jalan, kami menikmati pemandangan bukit yang masih berselimut kabut dan mengamati keseharian warga kampung yang mulai sibuk.
Tepat di atas sebuah jembatan saat kami melintasi sebatang sungai, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara isak tangis yang nyaring terdengar.
Kami berhenti, menatap ke arah tepian sungai dengan air yang mengalir tenang.

Alangkah terkejutnya kami, karena warna air sungai telah berwarna putih susu. Kami segera turun menghampiri.
Di sana sudah ada sepasang suami isteri beserta kedua putranya sedang menumpahkan susu-susu dalam wadah yang dibawanya ke dalam sungai. Wajah mereka tampak sedih, bahkan sang isteri jelas terlihat amat terpukul dan tak kuasa menangisi susu-susu yang harus dibuangnya.
Mereka menceritakan nasib dan kisahnya pada kami.
Pagi itu, pihak koperasi menolak susu mereka yang dianggap sudah tidak layak karena tidak memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan. Sedih, karena dengan demikian, maka lenyaplah sumber pendapatan mereka untuk hari itu.

Sejak peristiwa itu, aku menyaksikan ayahanda lebih banyak menyendiri di perpustakaan, dan sesekali menengok hewan-hewan ternak yang ada di sekitar kebun. Kalau sudah begini, biasanya adalah sebuah gelagat bahwa ayahanda sedang menyusun sebuah rencana..!
Benar, setelah beberapa bulan beliau kembali ke Eropa, pamanku menyusul ke sana. Sekembalinya ke Indonesia, paman tidak pulang sendirian.
Beliau ditemani beberapa orang bule dari Germany, French dan Holland. Bukan hanya itu, pamanku pun membawa oleh-oleh yang super banyak. Beberapa kontainer barang, sengaja mereka datangkan dari sana.
Setelah kembali mendapatkan kesempatan libur sekolah, aku menyengajakan diri datang ke kebun. Ada pemandangan baru yang sangat mengagumkan.

Di sana telah berdiri sarana diklat, lengkap dengan laboratorium, perpustakaan dan tenaga pembimbing serta penyuluh peternakan. Para petani dan peternak tampak fokus menerima penyuluhan dan bimbingan yang diberikan oleh para ahli yang sengaja didatangkan dari Bandung, Bogor dan beberapa negara luar.

Sejak saat itu, peristiwa pembuangan susu ke sungai sudah tidak pernah terjadi lagi. Kami bangga dan bahagia. Dari sini kami memetik sebuah kesimpulan, bahwa pendidikan dan pengetahuan adalah dasar bagi terwujudnya sebuah kehidupan yang lebih baik.
Pengalaman ini telah terpatri dalam hidupku, dan senantiasa kubawa kemanapun jua.
Hingga suatu ketika, aku harus melanjutkan pendidikan di Pekanbaru. Sebuah kota yang waktu itu masih sangat sepi, dimana batas-batas kota sangat jelas terlihat sekali.

Meski aku hanya seorang remaja SMA, namun banyak yang bilang bahwa aku sudah terlihat beda. Aku dikenal sangat akrab dengan sastrawan dan budayawan Riau, Syuman HS, serta cendikiawan Prof. Dr. Tabrani Rab.
Kelak, dari kedua tokoh inilah aku memahami sejarah Melayu Riau, sejarah Gerakan Pemberontakan PRRI/Permesta, serta struktur ekonomi nasional yang kala itu sangat bergantung pada sektor migas. Ya, dari bumi Riaulah, 65% minyak nasional dihasilkan.

Tapi tahukah anda, bagaimana keadaan kota Pekanbaru saat itu, yang notabene adalah ibukota provinsi Riau..? Keadaannya sangat memprihatinkan..!
Sebagai pendatang, saat itu aku hanya menemukan sebatang jalan raya yang layak disebut jalan, yakni Jalan Sudirman.
Selebihnya, aku terkadang salah menyebut dan sukar membedakan antara jalan dan gang, karena semuanya sempit dan hanya dilapisi aspal tipis yang tidak rata. Satu-satunya tempat hiburan keluarga, hanya di Suzuya Plaza, waktu itu belum mengenal istilah Mall.

Aku sekolah di salah satu SMA favorit, tapi jangan bandingin dengan sekolah serupa yang ada di pulau Jawa, gak adil..! Karena waktu itu belum ada laboratorium komputer, sehingga aku harus setia dan bangga dengan mesin ketik Oliveti, kesayanganku..!

Suatu hari, aku dijemput Prof. Tabrani untuk minum kopi di kawasan Pasar Bawah. Sepanjang jalan dia mencurahkan kekesalannya dengan sikap para pejabat di Jakarta, yang dalam penilaiannya telah dan selalu bersikap tidak adil terhadap daerah.
Belakangan aku tahu, bahwa beliau selalu menemukan kesulitan dalam mengurus perizinan bagi pendirian sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi. Sebagai putra daerah yang sukses tanpa uluran pemerintah, beliau sangat wajar kecewa. Semua niat baik untuk mengubah dan memperbaiki taraf hidup masyarakat Riau melalui perbaikan sektor pendidikan dan kesehatan, selalu mentah dan mendapat penolakan dari pusat, dengan alasan yang terkadang sangat menggelikan.
Lagi-lagi, prasyarat jumlah minimum penduduk kota dan ketiadaan akses pengawasan, selalu menjadi kartu As bagi pemerintah pusat untuk mementahkan setiap rencana mulia itu.
Di zaman Orba, kebijakan terkesan disusun untuk menghasilkan output yang bermuara di Pusat dan atau pulau Jawa.

Kami hanya bisa mengelus dada, menyaksikan pemuda-pemuda potensial yang teronggok karena ketiadaan sarana dan kesempatan.
Kami hanya mampu melihat ladang dan sumur-sumur minyak yang bekerja tiada henti dan senantiasa menyemai mimpi, menjelma menjadi sebuah kebanggaan, namun hampir tidak bisa memberikan harapan, apalagi perubahan..!
Ironis, di negeri yang menyumbangkan 65% minyak bagi bangsanya, tidak ada satupun universitas yang memiliki fakultas yang berkaitan dengan pertambangan minyak, bahkan hanya memiliki sebuah RSUD dan dua Rumah Sakit Swasta yang kualitasnya sangat jomplang dengan apa yang dimiliki oleh Jakarta dan kota-kota lain di pulau Jawa.

Tuhan Maha Adil, melalui tangan KuasaNya, angin reformasi bertiup kencang. Prof Tabrani menggaungkan semangat Riau Merdeka untuk menekan penguasa di Jakarta, agar memberikan keadilan dan perhatian yang lebih besar buat daerah.
Berkat perjuangan seluruh warga, akhirnya kini masyarakat kota Pekanbaru bisa menikmati kemajuan ekonomi yang pesat. Sekolah dan Rumah Sakit telah berdiri dimana-mana, bahkan Prof Tabrani pun telah membangun salah-satu universitas swasta terbesar yang dari dulu selalu diimpikannya. Kesejahteraan bukan sebuah mimpi, kita bisa mewujudkannya melalui jalur pendidikan, untuk meningkatkan kemampuan dan melahirkan kemauan..!

Terima kasih Prof., untuk segala petuah dan pengalaman yang telah diberikan..!

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s