Catatan Seorang Chef Bagian Ke 8

Posted: 18 Oktober 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

A

MAKNA DAN MEMAKNAI PENGALAMAN
Setiap orang pasti punya pengalaman sendiri-sendiri. Terkadang kita merasa silau dengan pengalaman yang orang lain miliki. Betapa agungnya mereka..! Pikiran itu mungkin pernah atau bahkan seringkali hinggap dalam pikiran anda atau kita. Setelah itu biasanya yang muncul adalah perasaan gagal dan lemah, karena saya tahu bahwa untuk mendapat sebuah kekuatan untuk bangkit itu nyatanya tidak mudah. Tapi saya berharap, semoga tidak demikian dengan anda.

Teman-teman saya sekarang mungkin lebih melihat diri saya sebagai sosok yang enak. Gimana nggak, pasport saya selalu berganti-ganti dan penuh dengan stempel imigrasi dari berbagai negara di lima benua. Bagi mereka yang terobsesi dengan perjalanan internasional, mungkin apa yang saya alami adalah sesuatu yang menakjubkan. Ya, mereka hanya melihat dari luar, tapi tidak pernah atau mungkin tidak mau melihat fakta yang sesungguhnya, dimana sejak jauh-jauh hari kadang saya harus kehilangan begitu banyak waktu istirahat dan kesempatan bercengkerama dengan sahabat.
Bahkan ada seorang sahabat yang protes konon saya agak pelit membalas message yang dia kirim. Mereka lupa dan hanya membayangkan bahwa message dia adalah satu-satunya message yang saya terima.
Saya tahu, banyak sahabat yang mungkin kecewa. Karena itu sayapun turut merasa prihatin dan kecewa. Kekecewaan anda adalah kekecewaan saya juga.
Kembali ke topik..!
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa pengalaman besar adalah pengalaman yang melibatkan banyak orang besar. Hmmm..! Tidak salah, bisa jadi ada benarnya. Namun benarkah harus demikian..?
Saya telah menemukan jawabannya sendiri, tapi anda tidak perlu terpengaruh dengan cara saya berpikir.

Bagi saya, pengalaman besar adalah pengalaman dimana kita bisa memetik hikmah dan pembelajaran yang bermanfaat bagi rantai kehidupan yang telah, sedang dan akan saya lalui. Saya tidak lagi silau dengan orang-orang besar..! Karena nyatanya, pengalaman besar adalah pengalaman yang mampu memberikan energi bagi kita untuk terus tumbuh dan berkembang kian besar. Pengalaman yang tidak memiliki andil seperti itu, tak lebih hanyalah sebuah kenangan..!
Sejak kecil saya sudah terbiasa menjuarai berbagai lomba tingkat nasional ataupun internasional. Pernah dipanggil ke istana negara untuk bertemu beberapa presiden dan dianugerahi berbagai penghargaan. Tapi nyatanya, semua itu tidak memberikan saya sebuah kenyataan hidup yang membanggakan. Saya hanya mendapatkan sebuah kenangan besar, bukan pengalaman besar..!

Masa kecil saya dihabiskan di beberapa negara dan daerah di Indonesia. Saya yakin, di masa kecil dulu, siapapun kita, pasti hanya bisa melakoni jalan hidup yang ada, nyaris tanpa pernah ada sebuah rencana, bahkan terkadang mungkin cita-citapun pernah dan seringkali tidak kita punya.
Bersama ayahanda, saya diperkenalkan dengan dunia pertambangan dan industri berat. Hampir setiap hari saya disuguhi pemandangan dimana segala yang saya lihat bukan sekedar benda yang dihasilkan dari sebuah perhitungan matematika sederhana. Dunia saya seperti sebuah titik kecil yang bukan bagian dari sebuah himpunan titik-titik besar. Dunia saya sangat terpisah..!
Bersama ibunda, saya belajar tentang matematika kehidupan. Konon, hidup itu sebuah proses matematika. Sangat eksakta..!

Ibunda sangat piawai menghitung production cost. Dengan hasil hitungannya, beliau akan menyiapkan langkah-langkah lanjutan. Menyiapkan pasar beserta segmentasinya, menyiapkan strategi bisnis dan langkah-langkah penetrasi serta ekspansinya, bahkan sangat teliti dalam membuat perkiraan jadwal peluncuran produk yang dimilikinya.
Di mata saya, apa yang dilakukan ibunda ataupun ayahanda, tak ubahnya seperti sedang membangun sebuah jembatan. Keduanya berusaha menghadirkan sebuah penghubung yang membentang di ruang yang kosong. Waktu itu, saya tidak mengerti tujuan dan harapan mereka. Hingga akhirnya, saya sendiri pernah merasa muak dengan keduanya. Saya memilih keluar dari lingkungan keluarga, dan menetap dengan keluarga bibi serta paman di kampung.

Saat itu saya merasa mendapatkan atmosfer baru. Hidup saya terasa lebih bergairah, walau harus bersekolah di tempat yang amat jauh. Setiap hari disuguhi pemandangan sawah dan kebun, gemercik air sungai dan kicau burung-burung pipit. Setiap hari berbaur dengan para tetangga yang berjuang dengan berbagai profesi yang berbeda. Setiap hari diperkenalkan dengan berbagai gaya hidup yang amat sederhana tanpa formalitas yang seringkali menyesakan dada. Setiap hari menikmati suguhan produk-produk sederhana. Setiap hari selalu ada ilmu baru yang bisa dipelajari. Meski sederhana, kehidupan desa nyatanya sangat istimewa. Saya bangga dengan pengetahuan yang saya peroleh dari desa.

Menanam singkong itu mudah dan sederhana, tapi kalau batang yang kita tanam itu terbalik, maka si singkongpun tidak akan berumbi. Pun demikian dengan menanam tebu, harus hati-hati. Menanam pisang juga hal yang biasa, tapi untuk menanam pisang agar bisa berbuah di sisi yang sama, ternyata ada caranya. Menanam cabe dan tomat juga sederhana, tapi agar terhindar dari penyakit daun keriting dan bunga gugur di musim angin barat, tentu butuh perhitungan jeli. Semua itu bisa menjadi sebuah pengalaman, lebih dari sekedar kenangan.
Saya juga pernah bertetangga dengan keluarga sinden dan dalang, pembuat dan penjual bakso, sate, siomay, lotek, pecel, gado-gado, kerupuk, telur asin, tape, tahu, kecap dan lain-lain. Saya juga bertetangga dengan para perajin bambu, bata merah dan genting tanah liat. Berkelahi dengan pemuda kampung, yang kemudian ternyata menjadi suami dari saudara sepupu saya dan bersaudara. Melabrak seorang dukun, yang ternyata kemudian menjadi guru silat dan mengajari berbagai ramuan obat-obatan tradisional, dan masih banyak lagi penggalan masa lalu kita yang mungkin dari dulu hingga sekarang kita abaikan..!

Akankah selamanya kita abaikan semua moment yang telah berlalu itu, dan hanya menjadikannya sebuah kenangan biasa? Atau justru kita akan mengubahnya menjadi sebuah pengalaman besar yang bisa jadi sangat berpengaruh dan bermanfaat bagi hidup kita..!
Sudah saatnya kita memaknai setiap penggalan hidup yang kita lewati. Tanpa usaha itu, kita hanya akan mampu meratapi dan menyesali, sementara masa depan yang kita impikan, masih juga belum pasti.
Saya percaya, peluang tidak hanya terletak pada sesuatu yang akan datang, melainkan juga pada sesuatu yang mungkin telah kita anggap hilang. Hidup adalah sebuah pencarian..! Hidup adalah sebuah perputaran..

OPTIMIS VS PESIMIS
Tak ada gading yang tak retak..!
Meski retak, tetap saja mahal harganya..!
Artinya, tidak akan pernah ada kesempurnaan dalam diri kita, namun demikian, masih ada values diri yang harus kita jaga. Dengan values yang ada, kita bisa terlihat beda..!
Bagi sang Pesimis, kesempurnaan itu tidak pernah ada, atau meskipun ada, tentu itu hanyalah milik mereka.
Bagi si Optimis, ‘kita juga punya..!’
Bagi si pesimis, cermin yang rata tanpa retak adalah simbol sebuah kesempurnaan.
Bagi si Optimis, mozaiklah simbol kesempurnaan.
Hidup adalah sebuah perpaduan, harmoni dan seni..!
Kehidupan adalah sebuah keindahan, bukan semata kebenaran..!
Tapi bagi si Pesimis, lagi-lagi terbalik..!
Hidup adalah sebuah kebenaran, tidak perlu keindahan..! Karena yang benar pastilah indah..!
‘Jangan munafik..!’ pungkasnya..

BIARKAN LAYARKU TERKEMBANG..!
Masih terngiang dalam ingatan, saat calon presiden dan calon wakil presiden terpilih Jokowi-JK menyelenggarakan sebuah resepsi besar di tepian dermaga Sunda Kelapa dengan mengambil latar deretan perahu layar Phinisi yang sedang bersandar. Sebuah karya koreografi yang indah, yang saya sendiri yakin pasti telah dirancang oleh seorang koreografer handal.

Phinisi adalah sebuah lambang kegigihan bangsa bahari Nusantara yang tak gentar dalam menerjang ombak dan badai di lautan. Phinisi adalah simbol kebesaran bangsa Bugis-Makassar yang sangat sarat dengan makna. Phinisi adalah sebuah kejayaan.
Sebagaimana Phinisi yang lahir dan datang dari Sulawesi, kita juga masih punya simbol sejenis yang tidak kalah agungnya, yakni Lancang Kuning.
Lancang Kuning adalah perahu layar yang menjadi kebanggan para nelayan dan saudagar dari daerah Riau. Bersama Phinisi, kharisma Lancang Kuning telah menyebar ke berbagai pelosok Nusantara.

Selain gagah, kedua-duanya mewarisi rupa yang indah..! Tidak ada yang bisa menyanggah..! Tapi mari, akan kemanakah perahu-perahu ini kita layarkan..? Layar sudah lama kita kembangkan, tapi sang nakhoda yang betul-betul faham, tak kunjung datang..! Tak perduli dengan puluhan purnama dan berjuta gemintang yang kadang datang dan menghilang, harapan kita jangan sampai punah dan musnah.

Meski laut terlihat tenang, jangan rebahkan tiang-tiang itu terlentang. Biarkan berdiri gagah, tegak menantang, menyambut badai yang menerjang, hingga mentari nan cemerlang datang bersama kesatria yang lantang mengepal genggam pertanda menang..!

Mari kita jemput kemenangan, kita jaga kebersamaan, kita rajut keragaman, kita sulam kejayaan, kita majukan peradaban, kita muliakan ketuhanan, dan kita enyahkan keangkaramurkaan. Kita bangsa pemenang, bukan pecundang..!
Tak perduli siapa yang kan datang. Entah Hang Tuah atau Sawerigading. Layar-layar ini biarkan tetap terkembang, agar bahariku tetap berseri..!
Meski langit meredup berselubung kabut, jangan sesekali ditutup, nyaliku tak pernah ciut. Langkahku tiada beringsut, menjemput angin yang bertiup.

Kami bukan bangsa penakut, apalagi pengecut..!

Sumber

Komentar ditutup.