Catatan Seorang Chef Bagian Ke 38 (ANTARA VENEZUELA, INDONESIA dan Filipina)I

Posted: 19 Oktober 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

 

A

ANTARA VENEZUELA DAN INDONESIA

Venezuela adalah potongan-potongan kecil dari seluruh rangkaian masa kecil saya. Bersama keluarga kami dulu pernah tinggal dan menetap di kota Maracaibo-Venezuela, sebuah kota pelabuhan terbesar di negeri latin tersebut. Kesibukannya, mengingatkan saya pada kesibukan kota pelabuhan Surabaya di Indonesia..! Di kota itu pulalah saya mulai diperkenalkan olah raga beladiri asli Asia, seperti karate dan tae kwon do. Maklum, sekolah kami dulu 40% siswanya banyak berasal dari negara-negara Asia, seperti Japan, Korea, Indonesia, Brunei, Iran, Arab, China, India, dan lain-lain. Sekolah kami sangat terkenal dengan julukan sekolah full colournya, maklum selain anak-anak kaum expatriat Asia, sekolah kami juga menjadi incaran para expatriat dari benua biru dan juga masyarakat setempat. Konon, selain kualitas pendidikan, sekolah kami juga menawarkan jaminan keamanan yang sangat langka diberikan oleh institusi pendidikan manapun di Venezuela pada saat itu. Tidak heran, jika kami seringkali menjadi tontonan anak-anak dari sekolah lain. Betapa asingnya kami..! Hal itulah yang hingga kini masih teringat dalam kenangan pribadi saya. Saya merasakan dunia yang bebas hanya disaat ayahanda membawa kami bercuti ke negara Amerika Latin lainnya, terutama Argentina dan Dominica. Maklum, disaat itu, kedua negara tersebut adalah pusat produksi bagi barang-barang konsumsi terkenal yang beredar di Amerika Serikat. Dari mulai tissu, pensil, buku, pakaian, makanan, peralatan olah raga, dan masih banyak lagi yang lainnya, tertera label bertuliskan ‘product of Argentina/Rep. Dominica, atau ‘made in Argentina/Rep. Dominica.’
Jangan cari yang buatan Indonesia, karena waktu itu nama Indonesia belum banyak dikenal dunia. Satu-satunya yang saya ingat adalah orang Dominica mulai mengenal nama Indonesia justru setelah petinju mereka dikalahkan oleh petinju Indonesia, Ellyas Pical..! Sejak saat itu pula, saya menemukan kebanggaan sebagai warga Indonesia di Amerika Latin..! Terima kasih bung Elly atas jasa dan prestasimu..!

Kini setelah beberapa puluh tahun kemudian, nama Indonesia telah menjadi sesuatu yang biasa terdengar. Entah karena hal-hal yang bersifat positif, ataupun juga karena hal-hal lain yang kurang menyenangkan, seperti berita pengeboman, korupsi, bencana alam, dan lain-lain. Apapun sebabnya, kita patut bersyukur, karena akhirnya semua masyarakat dunia semakin mengenal nama Indonesia.

Dari Venezuela, nama Hugo Chavez masih menjadi idola saya. Dengan keberanian dan aksi nekadnya, beliau berhasil menasionalisasikan perusahaan-perusahaan minyak asing di negeri kaya minyak tersebut, meski kemudian kita menyaksikan bagaimana beratnya negara itu harus menghadapi hukuman pengkucilan dari pergaulan dunia. Bahkan meski disaat harga minyak dunia sedang melambung tinggi, negara tersebut tidak mampu memetik benefit dan advantage yang signifikan. Venezuela akhirnya malah menjelma menjadi negara yang salah urus. Namun keputusan menasionalisasi perusahaan asing itu telah menjadi sebuah pelajaran yang amat berharga bagi dunia manapun, namun tentu dengan versi yang berbeda-beda.

Termasuk Indonesia..!
Di era presiden SBY, upaya menasionalisasi perusahaan asing mulai dihembuskan, walaupun tentu saja tidak sekeras yang dilakukan oleh Hugo Chavez. Kita memilih cara yang lebih elegan, dan saya sangat menyukai cara ini.

Kita telah bermula dengan pengambilalihan beberapa ladang gas dan minyak lepas pantai, pengambilan perusahaan pengolahan bijih alumunium terbesar yang sebelumnya dikelola Jepang di Asahan, Sumut, dan yang paling santer diberitakan adalah dengan dikeluarkannya policy yang mewajibkan perusahaan pertambangan yang beroperasi di Indonesia untuk membangun fasilitas smelternya di Indonesia..! Dan ini adalah cara yang sangat Indonesia, meski tidak mudah dan tidak murah, namun nyatanya dunia mulai tersadar bahwa kita masih memliki nasionalisme yang tinggi, bahkan konon dari sini pulalah, kita menjadi negara yang terus menolak bergabung dalam kelompok kerja sama Asia Pacific yang dikenal dengan Trans Pacific Partnership, karena didalam klausul kebijakan yang dimilikinya, TPP telah secara nyata menempatkan kedaulatan investor lebih tinggi dari kedaulatan sebuah negara, dimana seorang investor bisa dan berhak mengajukan gugatan atas setiap kebijakan suatu pemerintahan di suatu negara TPP yang dirasa merugikan, memberatkan atau menghambat iklim investasi yang diinginkan. Point ini sangat jelas bertentangan dengan semangat kedaulatan yang tertuang dalam UUD 1945, dimana negara menjadi satu-satunya pihak yang berhak mengelola seluruh sumber kekayaan alam demi kesejahteraan bangsa dan negaranya, bukan untuk para investor yang ada..!

Terima kasih SBY dan Jokowi, karena anda tidak terhasut untuk membawa nama Indonesia dalam daftar nama anggota negara-negara TPP..! Semoga kunjungan presiden Jokowi pada 25 Oktober nanti juga tidak mengubah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia yang telah ada. Meski kekhawatiran itu tetap saja ada, terutama setelah mantan menteri Perminyakan Venezuela ditunjuk sebagai Dubes Venezuela untuk USA.

Sikap Venezuela dalam Opec, kini tiba-tiba berubah..!
Venezuela menuntut untuk kembali ke rezim bebas, dimana menempatkan harga minyak dunia berada di atas USD100/barel..! Jika ini yang terjadi, sanggupkah Jokowi menjaga keteguhan hatinya untuk tidak terperdaya dengan berbagai bujuk rayu USA. Saya tahu, sang Presiden akan berangkat pada saat yang tepat, dimana beliau akan membawa dan mengantongi daya tawar yang tinggi. Andai beliau mampu bernegosiasi dengan keutuhan hati nurani demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih cemerlang, maka sangat tidak mustahil, jika kita juga akan menyaksikan masa depan Freeport di Papua serupa dengan nasib PT Alumina di Asahan, Sumut..! Dengan membiarkan masa kontrak yang ada menemui masa akhirnya, dan kita abaikan usaha negosiasi untuk perpanjangan masa kontrak berikutnya, maka otomatis, Indonesia akan memiliki dan menguasai Freeport secara gratis..!

Tidak sampai disitu, Jokowi juga sedang mengantongi ambisi perusahaan Apple Inc., untuk menginvestasikan dana besarnya disektor pertambangan timah Indonesia, disusul oleh keinginan Google untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis investasi dan R&D yang dimilikinya, maka apa yang disodorkan oleh Freeport kemudian, sejatinya amatlah tidak berbanding dengan apa yang akan bisa dinikmati oleh bangsa ini.

Doa dan harapan saya, semoga presiden Jokowi memilih sikap bungkam untuk usaha perpanjangan kontrak karya milik PT Freeport di Indonesia, dan mendorong sepenuh hati masuknya investasi Apple dan Google di Indonesia..! Mari kita jadikan Indonesia sebagai salah satu hub hitech dunia, dan mengakhiri mimpi ngeri di Papua..!
Selamatkan Indonesia, tegarkan Ibu Pertiwi..!

INDONESIA – PHILIPINES MENUJU ERA BARU

Akhirnya, arah kerjasama militer/pertahanan antara Indonesia dengan Philipines akan dibangun dengan mengacu pada skema seperti yang telah terbentuk antara Indonesia dengan Brunei Darussalam.

Dalam langkah pertama ini, kedua negara sedang memantapkan sebuah program penjajakan, yakni Personel Exchange Program. Dalam lawatannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, Panglima Angkatan Bersenjata Philipines ternyata langsung jatuh cinta dengan kehandalan dan kelengkapan sarana pendidikan dan penguasaan skill individu para personel Kopassus. Akhirnya, dalam kunjungan balasan kali ini, militer Philipines langsung menyampaikan permintaan agar TNI mengirimkan para ahli tembak dan strateginya ke Philipines. Orang-orang terbaik di Kopassus dan TNI AD lainnya, kini sedang mengasah kemampuan personel pasukan elit Philipines. Konon, sang Panglima merasa cemburu dengan kehebatan para personel pasukan elit dari negeri Cambodia dan kehebatan menembak para sniper Brunei Darussalam, yang selama ini sering melakukan latihan bersama dengan Philipines. Kedua pasukan dari negara-negara tersebut, tak lain adalah hasil sentuhan tangan dingin pasukan-pasukan elit TNI.

Salute untuk TNI..! Maju jaya untuk Indonesia dan dunia..! Selamat berkarya..!

Sumber

Komentar ditutup.