Catatan Seorang Chef Bagian Ke 42 (Di Bali, Russia pun MELELEH)

Posted: 1 Desember 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

ADebur ombak dan hamparan pasir putih di pantai-pantai Bali ternyata tampak lebih sexy daripada gadis-gadis Russia yang molek dan tinggi semampai. Hal ini terbukti dengan mencairnya sikap ngotot Russia yang selama ini keukeuh tidak mau memberikan ilmu kedirgantaraan yang dimilikinya pada Indonesia. Maklum, Transfer Of Technology/TOT, yang selama ini diminta Indonesia terhadap setiap proses pembelian alutsista dari Russia, selalu berakhir gagal.

Namun kini, dalam sebuah negosiasi alot yang dilakukan kemarin di Bali, delegasi Russia terlihat melunak, yang akhirnya mereka pun siap untuk berbagi ilmu dengan Indonesia.

Setelah memastikan bahwa pesawat tempur Su-35 pesanan Indonesia akan diproduksi secara ekslusif sesuai permintaan dari TNI AU, pihak R8ussia juga akhirnya bersedia membangun pusat servis yang akan berfungsi sebagai wahana pembelajaran dan proses TOT sebagaimana diinginkan oleh Indonesia. Tidak hanya itu, sebagai rasa terima kasih atas kesediaan Russia untuk membangun pusat servis kedirgantaraannnya di Indonesia, Menhanpun akhirnya mau menambahkan item orderannya pada list belanja yang telah disampaikan belum lama ini. TNI AU tidak lama lagi akan dilengkapi oleh kehandalan pesawat Beriev Be-200, yang dalam usaha pemadaman kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan baru-baru ini memperlihatkan ketangguhannya. Dalam waktu dekat, Russia akan segera mengirimkan 4 unit pesawat pendukung Be-200 kepada TNI AU..!

Hehehe…! Lumayan…
Selamat datang Be-200, dan selamat kembali si Anak Hilang, Su-35..! Sukses TNI AU, Jayalah Indonesiaku..

KEMANA LAGI BURUNG PIPIT BERSARANG..?

Tadi saya mendapat panggilan telepon dari seorang teman yang berprofesi sebagai peneliti di BPPT, Jakarta.
Dia menanyakan tentang pengalaman saya dalam mengelola sawah beberapa tahun lalu. Luas lahan, biaya, hasil panen, untung-rugi, tantangan, dan lain-lain, semua tak luput dari perhatiannya. Ketika saya bilang bahwa rata-rata hasil panen yang pernah saya alami adalah berkisar antara 8-10 ton gabah kering/hektar, dia melanjutkan pembicaraannya secara lebih serius, sambil menekankan bahwa tidak lama lagi, kita bisa menghasilkan beras ribuan ton dari setiap hektar lahan yang kita miliki. Hebatnya lagi, kita juga tidak memerlukan sarana irigasi dan proses pemupukan secara langsung..!

Ah, mau tanam dimana bibit padi ajaib tersebut..? Pikir saya dalam hati..!
Dia melanjutkan pembicaraannya, bahwa BPPT telah berhasil menciptakan beras tiruan yang hasilnya sama persis dengan beras asli yang ada saat ini. Bahkan konon beras ciptaan BPPT ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh beras-beras yang selama ini kita konsumsi. Beras BPPT bisa secara sengaja diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral yang diperlukan oleh tubuh. Selain itu, karena beras BPPT diproduksi dari dalam sebuah pabrik, maka kestabilan harganya bisa tetap terjaga, tidak terlalu terpengaruh oleh musim..! Beras BPPT juga sangat layak dikonsumsi, dan sangat berbeda dengan beras plastik made in China yang baru-baru ini santer diberitakan sudah mulai menyusup dalam pasaran pangan Indonesia..!

Beras BPPT terbuat dari bahan singkong, jagung dan sagu.! Artinya, untuk bisa menghasilkan beras BPPT dalam jumlah yang banyak, kita juga harus memproduksi ketiga komoditi pendukungnya dalam jumlah yang banyak dong..!

Benar, tapi itu jika kita menginginkannya. Saat ini, hasil penelitian BPPT baru akan diterapkan untuk menyerap kelebihan produksi singkong, jagung dan sagu yang ada, sehingga mampu memberikan nilai tambah kepada para petani. Kedengarannya sangat bagus, terutama apabila dilihat dari sudut pandang ekonomi pertanian. Tapi bagaimana dengan saya..?

Saya adalah pelaku bisnis kulineri, yang tentu saja sangat bergantung pada produk dan kualitas beras yang dihasilkan. Apakah beras BPPT kelak masih akan bisa mempertahankan kualitas produk kuliner Nusantara yang ada, ataukah mungkin bisa lebih jauh mendeliverykan kualitas yang diinginkan. Sekiranya itu berhasil, saya rasa kehadirannya patut didukung semua pihak. Tapi bagaimana sekiranya nanti justru hanya akan memperburuk kualitas produk kuliner Indonesia yang telah ada..?

Perlu ada kesamaan pandangan dan tujuan, bahkan pihak BPPT pun harus mampu bersikap legowo menerima masukan dari para pelaku bisnis makanan, karena nyatanya fungsi beras tidak sekedar pengisi perut disaat lapar, namun bagi beberapa kalangan, beras adalah sebuah instrumen penting bagi terwujudnya sebuah karya pangan Nusantara. Contoh simple, di restoran yang ada di Belanda, banyak yang menjual nasi goreng. Siapapun disana sudah sangat mafhum jika nasi goreng adalah makanan khas Indonesia. Saking khasnya, beberapa restoran bahkan ada yang mencantumkan nama nasi goreng itu secara bulat-bulat. Amazingnya, bule Belandapun sudah tahu jika mereka memesan menu Nasi Goreng, maka mereka akan mendapatkan Fried Rice sebagaimana yang terpikirkan oleh mereka. Nasi Goreng dan Sate, telah menjadi simbol kebanggaan Indonesia disana, selain simple, citarasanya juga udah terkenal nendang..! Lapar..? Datang ke restoran Indonesia aja..!

Kembali ke Indonesia..!
Saya cukup lama bermukim di Makassar, Sulawesi Selatan. Disana, beras dibuat menjadi berbagai produk makanan yang setiap hari bisa kita dapatkan, mulai dari restoran, hingga ke warung-warung pinggir jalan. Tukang Coto Makassar dan Bakso, sudah pasti akan menyediakan burasa dan ketupat. Kalau nasi sih udah pasti, bahkan selain itu, masih ada camilan yang sangat menggiurkan, yakni Es Putar tape ketan hitam..! Hmmmmm..! Sedikit menyeberang ke warung sebelah, ada penjual Bubur Manado yang segar, gurih dan enak..! Semua makanan tersebut tidak terlepas dari fungsi dasar beras, yang kemudian menghasilkan sebuah karya seni tersendiri..! Jangan salah, di Makassar juga banyak dijual makanan yang digoreng. Ada mie goreng dan nasi goreng yang unik, yaitu nasi goreng Hongkong yang berwarna pink kemerahan. Semua karya boga ini telah ada sejak lama, sangat sayang jika kelak harus tergeser oleh adanya beras jenis baru.

Semoga BPPT bisa lebih peduli terhadap kelestarian karya boga Nusantara yang telah ada, jika perlu, tidak ada salahnya jika BPPT juga turut memikirkan kemungkinan terbaik bagi terwujudnya karya boga Indonesia. Dengan kemampuan rekayasa yang ada, tidak mustahil kelak karya boga Indonesia bisa terbang jauh mendunia, meski setelah ini mungkin kita akan kehilangan kicau burung-burung pipit yang hilang karena tiada lagi tempat untuk bersarang..!

Untuk BPPT, saya ucapkan selamat atas hasil penelitiannya, semoga bermanfaat bagi bangsa dan negara, serta seluruh umat manusia..!l

RINGTONE

Pagi ini harus meeting. Sebelum memasuki ruang meeting, saya mengambil file-file dulu di atas meja kerja. Saat sedang berjalan menuju ruang meeting, tiba-tiba terdengar irama lagu lawas, When the Blindman Cries, kalau tidak salah lantunan dari group mucic terkenal, Deep Purple.

Tapi dari manakah asal senandung sendu itu yang datangnya amat tiba-tiba dan ujug-ujug..? Lama-lama kian nyaring, hingga kemudian saya menyadarinya bahwa suara tersebut berasal dari perangkat komunikasi yang tersimpan di dalam tas..!

Kaget dan tersenyum, karena baru ngeuh jika selama sekian tahun saya sudah tidak pernah lagi meng-on-kan ringtone pada alat komunikasi saya. Meskipun ada lagu pilihan yang terpasang sebagai ringtone, itu tak lain hanya sebagai bawaan dari toko penjual alat komunikasi, dan saya tidak pernah memilih lagu yang diinggini, sehingga tidak heran jika kemudian sayapun tidak mengenali ringtone dari alat komunikasi sendiri..!

Bagaimana dengan ringtone anda..?
Bagi saya, ringtone lebih banyak dipakai untuk nada alarm ataupun event reminder. Semoga anda tidak lupa dengan ringtone yang sedang terpasang pada alat komunikasi anda. Selamat beraktifitas

Sumber

Komentar ditutup.