Catatan Seorang Chef Bagian Ke 43 (OTAK DAGANG)

Posted: 10 Desember 2015 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

AKARPET MERAH UNTUK INDONESIA

Setelah Russia melakukan deal penjualan pesawat tempur Su35 kepada Indonesia, maka pengiriman pesawat sejenis kepada China dinyatakan akan ditunda. Padahal deal sebesar USD 2 bilion dengan China telah tercapai lebih dahulu..!

Russia melihat prospek yang jauh lebih baik di sebalik deal dengan Indonesia, yang nilainya konon bisa lebih dari sekedar USD 2 bilion seperti yang ditawarkan oleh China.
SU35 Indonesia akan semakin turut memperkuat citra Russia, selain tentu akan semakin memperkuat posisi Indonesia sendiri. Terbukti kini para ahli pertahanan Australia mulai mengkaji setrategi baru bagi menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi di wilayah Laut China Selatan dan Pasifik..!

SU35, WELCOME…!

Lagi nunggu postingan tentang deal terbaru project pesawat KFX/IFX yang baru disepakati dua hari lalu di Jakarta, tapi kok gak muncul-muncul ya..?

Namun bagaimanapun, saya ingin mengucapkan selamat kepada segenap bangsa Indonesia, karena tidak lama lagi kita akan mampu membangun pesawat tempur canggih sendiri..!

Terima kasih tak terhingga juga saya haturkan kepada pihak EF Typhoon yang tak bosan mendorong Indonesia untuk menjadi user pertama di wilayah Pasific, dan telah sudi berbagi teknologi radar canggihnya yang akan dilaunching pada pertengahan 2018. Kelak radar inilah yang akan menjadi pembeda antara KFX dengan IFX..!

Jika itu yang menjadi alasannya, kini saya mengerti kenapa kita harus menjatuhkan pilihan pada Su35..! Setidaknya, pesawat ini akan tetap mampu menjadi pesawat canggih, meski kelak IFX sudah mengudara..! Pilihan jitu, meski terkadang sering terlihat peragu..!
Selamat tinggal AESA..! We will never make you as our dreaming anymore..! Everything has enough ready..!

OTAK DAGANG

Istilah tersebut di atas pertama kali saya dengar dari mulut sahabat saya, seorang diplomat Korea yang sedang bertugas di Kedutaan Besar Korea untuk Malaysia.

Saat itu, Indonesia sedang gencar belanja Alutsista untuk keperluan peningkatan kemampuan pertahanannya. Dengan segala keterbatasan akses yang kita miliki, ternyata justru akhirnya kita mampu mendapatkan produk prima yang semestinya tidak perlu diragukan..!

Mengapa kita tiba-tiba menjadi negara yang Korea sentris..? Hampir semua matra militer kita telah diperkuat oleh persenjataan produk Korea, yang pada saat itu langsung mengundang ejekan berbagai pihak, terutama disaat kita memutuskan untuk membeli 3 unit kapal selam Chang Bogo..!

Bagaimana tidak, disaat Malaysia baru saja mengakuisisi produk serupa dari Perancis, kita malah membeli barang yang konon murahan..! Benarkah..?
Bisa jadi benar, apa yang kita peroleh dari Korea itu terbilang sangat murah, mengingat kita bukan saja membeli kapal selam, melainkan juga berkesempatan untuk mampu belajar dan melakukan transfer of technology kapal selam canggih tersebut..!

Pertanyaannya, mengapa kita harus memilih kapal selam Chang Bogo ini, padahal disaat yang sama, baik Russia, Perancis,Turki bahkan Germany sendiri turut menawarkan produk-produk andalannya..?
Kita telah mengabaikan produk yang ditawarkan oleh negara-negara tersebut..! Tak ayal, sikap mencuekkan KS Kilo buatan Russia sempat menuai ejekan dari berbagai pihak..! Kita juga sering dibandingkan dengan Vietnam yang konon dinilai lebih nekad dan berani..! Maklum, dimata pecinta dunia militer, kapal selam Kilo Class telah dianggap sebagai kapal selam terbaik dan terulung..!

Tapi tunggu, mungkin ada hal yang tidak kita ketahui, dan hanya individu yang berotak daganglah yang akan mampu memahami keputusan ini..!

Sebagai pertimbangan dasar, perlu kita ketahui bahwa Korea adalah satu diantara sedikit negara di dunia yang memiliki blueprint yang jelas dalam membangun industri dan armada kapal selamnya..! Chang Bogo adalah project prestisius mereka yang dilakukan bersama dengan Germany. Dalam Project pertama, Korea telah menganggarkan untuk membangun 12 unit kapal Chang Bogo dari kelas 209/1300 ton..! Namun dalam kenyataannya, mereka hanya mampu menyelesaikannya pada jumlah yang ke-9, sehingga pihak DSME masih memiliki kuota 3 unit lagi. Sisa kuota inilah yang sesungguhnya mereka jual ke Indonesia..!
Dengan menjual sisa kuota tersebut, maka pihak Korea terhindar dari potensi kerugian, dan bisa terus melanjutkan ke tahap pembangunan Chang Bogo berikutnya, yakni type 214/2200 ton..! Namun pada type yang satu ini pun, Korea masih menyisakan kuota sebanyak 2 unit lagi. Sehingga hampir bisa ditebak kemana arahnya pembangunan kapal-kapal selam di Indonesia yang akan dikerjakan oleh pihak PT PAL Surabaya. Setelah nanti kita mampu menyelesaikan kapal selam Chang Bogo ketiga, maka kapal selam berikutnya yang akan dikerjakan adalah dari Type 214 yang sudah mengusung teknologi AIP..! Disaat yang sama, Korea bisa terus melenggang membangun kapal selam berikutnya yang jauh lebih besar, yakni di atas 3000 ton..!

Mengapa kita menolak Kilo Class yang dulu ditawarkan Russia..?
Jawabannya karena ternyata Kilo Class tidak lebih baik dari 209, mengingat dulu pihak Korea juga pernah menolak Kilo Class sebelum mereka memilih membangun type 209 buatan Germany..! Selain itu, rupanya Indonesia sedang mengincar produk kapal selam Russia yang lebih canggih..!

Lantas mengapa kita menolak tawaran dari Turki yang notabene pemegang lisensi type 209 dari Germany..?
Hehehe..! Perbedaannya kini terlihat jelas..!
Chang Bogo adalah proyek kerjasama, dimana masih ada keterlibatan pihak Germany di dalamnya, bahkan masih ada beberapa material yang langsung disuply dari pabriknya di Germany..! Keaslian Chang Bogo tentu saja bisa dikatakan lebih baik daripada type 209 yang dibangun Turki yang hanya berdasarkan sebuah lisensi..!
Selain itu, dengan memilih Chang Bogo, kelak kita juga akan bisa membangun kapal selam seperti halnya Turki. Disaat itu, lisensi hanyalah soal waktu..! Tidak heran jika kemudian pemimpin Indonesia pun mendekati pihak Germany..! Sepertinya, kita akan meminta lisensi langsung dari Germany ketika kita sudah mampu membangun kapal selam besar di atas 3000 ton..!

Jika lisensi dipandang sebagai simbol kualifikasi, maka kelak dunia akan menyaksikan bahwa Korea sebagai negara pemegang lisensi produk KS type 209 dari HDW, Turki pemilik lisensi untuk type 214, dan Indonesia sebagai pemegang lisensi untuk type 218..! Andai itu sudah tercapai, maka akan menjadi sebuah tamparan keras bagi Singapore, karena meskipun akan menjadi negara pertama pengguna type 218, namun nyatanya mereka tidak mampu membangunnya..!

Semoga prinsip membangun strategi yang mendukung pembangunan teknologi, dan membangun teknologi untuk pembangunan strategi, kelak bisa terus terlaksana dan berjaya..! Aamiin..

KEMBALINYA SI ANAK HILANG

Hari ini, Indonesia kembali bergabung dalam organisasi negara-negara pengeksport minyak alias OPEC..!
Sebagai warga negara biasa, saya kurang mengetahui secara persis apa sesungguhnya yang menjadi faktor pendorong bergabungnya kembali Indonesia dalam organisasi elit dunia tersebut..! Bagaimana tidak, bukankah sejak tahun 2008 kita telah berubah total menjadi negara nett importir minyak..! Dalam pemikiran awam yang saya miliki, sebenarnya sampai hari ini saya belum bisa mencerna jalan pikir pihak pemerintah. Dilihat dari sisi ekonomi, terutama faktor harga dan kebutuhan, semestinya kita berada di luar kepentingan organisasi tersebut. Kita harus bisa menawar bahkan mungkin menekan agar harga minyak dunia bisa selalu berada dalam harga yang relatif murah dan rendah..!

Namun kini, rezim ekonomi minyak dunia sedang berubah..! OPEC, terutama negara-negara Arab menginginkan agar harga minyak dunia terjaga pada level yang rendah..! Arab berambisi agar produktivitas OPEC bisa terus ditingkatkan, sehingga tidak ada lagi kesenjangan dan kekosongan dalam kepemilikan dan penyerapan minyak dunia di belahan dunia lainnya..! Minyak OPEC harus mampu memenuhi semua kebutuhan masyarakat dunia, bukan hanya negara-negara Eropa dan Amerika, atau negara-negara lain yang telah menjelma menjadi negara industri raksasa..! Jalan ke arah itu jelas sangat tidak mudah..! OPEC harus memperkuat otot-ototnya, agar mampu bertarung dalam kancah dan panggung politik global. Kehadiran Indonesia tentu bisa menjadi sebuah asupan gizi, karena selain mampu menghasilkan minyak hingga pada volume 800 ribuan barel, Indonesia juga juga sudah kesohor handal dan piawai dalam memainkan tarian hubungan internasionalnya..! Pokoknya, Indonesia itu keren dan hebat deh..! Hehehe..! Kira-kira seperti itulah gambaran tentang harapan negara-negara OPEC lainnya terhadap kehadiran sosok Indonesia..!

Melihat perubahan arah angin yang ada dalam tubuh OPEC, tentu bukan hal yang mustahil jika kelak kita juga mampu memetik benefit meski hanya berbekal angka produksi yang relatif kecil..! Harapan ke arah itu senantiasa ada dan masih sangat terbuka..!

Satu hal yang perlu kita cermati, adalah bagaimana kita dan segenap bangsa Indonesia memahami dan menyikapi arah angin yang sedang berubah..! Belakangan kita telah dididik dengan rezim harga minyak nasional yang selalu paradoks..! Pergerakan harga minyak kita selalu berlawanan dengan pergerakan harga minyak dunia yang selalu turun. Bahkan konon kini pemerintah juga berniat mencabut subsidi listrik, artinya kedepan kita tidak akan pernah lagi menikmati manisnya madu minyak dan energi..! Namun demikian, sebaiknya kita jangan berkecil hati dulu, ketiadaan subsidi harus dipastikan mampu memenuhi kebutuhan kita terhadap sarana-sarana vital lainnya..! Kita butuh infrastruksur, untuk menekan fenomena ekonomi biaya tinggi..! Kita perlu jaminan supply energi yang lebih baik, agar bangsa ini bisa semakin produktif..! Penghapusan subsidi pasti akan memberikan rasa pedih dan perih terhadap kebanyakan rakyat Indonesia..! Tapi jika itu adalah awal dari kebangkitan, kemerdekaan dan kedaulatan ekonomi bangsa, apakah pantas jika kita masih harus berkeluh kesah..!

Jangan habiskan energi yang kita miliki semata-mata untuk menghasut dan membully, tapi mari kita jaga dan gandeng seluruh elemen bangsa ini agar terus berkarya positif untuk kemajuan negeri dan kian berdikari..! Bukan sebaliknya, malah semakin rakus korupsi dan memperkaya diri sendiri..!

Kembali ke OPEC..? Why not..!
Selamat kembali dan berkontribusi, negeriku..!

Sumber

Komentar ditutup.