Catatan Seorang Chef Bagian Ke 50 (Emas…!)

Posted: 6 Februari 2016 in KUMPULAN CATATAN SEORANG CHEF, MILITER

Dari dulu sikap saya sudah sangat jelas, akan menolak untuk bergabung dengan organisasi buruh manapun..!
Kecuali visi dan misi kita sudah sama, yakni membentuk partai buruh tersendiri yang independent, nasionalis dan berkaliber. Tanpa semua itu, saya gak mau capek- capek ikutan mendulang angin di jalan raya..! Maaf, yang gituan mah sudah menjadi masa lalu bagi saya…

dedenew241

HEHEHE…!

Barusan bertemu dengan sepasang tamu bule yang sedang menikmati hidangan kopi dan kue-kue tradisional. Saya menyapanya, karena dari bahasa tubuhnya, saya telah melihat kedua orang ini ingin menyampaikan suatu pertanyaan. Benar, diapun melontarkan banyak pertanyaan seputar tempat-tempat wisata. Saya menjelaskannya sedetail mungkin. Namun tiba-tiba mereka memotong pembicaraan saya, yang katanya terlalu cepat, dan mereka kurang menguasai bahasa Inggris.

Akhirnya sayapun balik bertanya, menanyakan asal-usul dan juga profesinya..! Ternyata kedua orang tamu saya ini berasal dari Rotterdam, Belanda..! Sayapun mencoba untuk mengganti bahasa yang sedang kami tuturkan ke dalam bahasa Belanda..! Kali ini mereka bengong, seolah tidak percaya, dia menanyakan asal usul saya..! Dengan bangga saya menjelaskan bahwa saya orang Indonesia..!

Spontan mereka berdiri dan merangkul saya..! Konon selama 40 tahun ini, setiap tahun mereka akan berlibur ke Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam dan China. Dan kemarin mereka baru saja meninggalkan Indonesia, setelah lebih dari 2 minggu mengelilingi Bali, Lombok, Yogyakarta dan Bandung..!

Masih ada kurang lebih dua minggu lagi. Kami akan menghabiskannya di Malaysia, Thailand, Vietnam dan China..! Tuturnya dalam bahasa Indonesia yang super lancar..! Kali ini giliran saya yang tidak percaya..! Sungguh luar biasa, bahasa Indonesia mereka sangat maknyuss..!

dedenew245

MENGUJI EFEKTIVITAS TRAVEL WARNING AUSTRALIA

Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi akhirnya mengeluarkan sebuah kebijakan nyeleneh. Geram dengan ulah Australia yang terlalu seenaknya mengeluarkan travel warning bagi warganya, akhirnya Jokowi bertekad untuk membebaskan para turis Australia itu memasuki wilayah Indonesia dengan tanpa memungut biaya viskal.

Dengan penghapusan viskal ini, Jokowi berharap agar para turis Australia yang konon terkenal paling boros dalam menghabiskan uangnya di Indonesia, akan semakin betah dan memilih untuk berlama-lama tinggal di Indonesia.

Namun tentu saja bukan hanya itu maksud dan tujuannya. Jokowi terkesan ingin meledek sikap Australia yang suka semena-mena mengeluarkan travel warning. Harus diakui bahwa dengan dikeluarkannya travel warning oleh suatu negara, iklim pariwisata suatu negara akan mengalami penurunan. Namun, dengan langkah yang diambil Jokowi kali ini, akankah travel warning yang kelak dikeluarkan oleh Australia bisa berfungsi efektive?

Jika ternyata kebijakan Jokowi mampu membiaskan kekuatan sebuah travel warning, maka secara tidak langsung, kebijakan ini juga akan menjadi sebuah olok-olok yang sangat sarkastik bagi pemerintah Paman Sam. Maklum, selain Australia, Amerika adalah negara yang selalu menjadi provokator utama..!

Dengan segala kemudahan yang diberikan, semoga setiap travel warning yang dikeluarkan akan menjadi seperti anjing menggonggong, kafilah berlalu..! Lantas, apa mau Lo..?

 

yayan2

Wah, pak SBY ternyata sedang memberikan kuliah umum di universitas Udayana, Bali.
Semoga semangatnya yang ditularkan melalui materi kuliahnya akan mampu menjadi semangat bagi segenap bangsa Indonesia, bukan sekedar semangat para petinggi negara..! Aamiin..

 

MELIHAT INDONESIA DARI MEDIA INDONESIA

Saya sering tertawa setiap kali membaca konten berita nasional di media-media Indonesia. Gayanya mengingatkan saya pada gaya media Korea di era 90an, atau media Hongkong pasca kembali ke China. Sangat brutal dan membingungkan..!

Walau demikian, saya selalu berusaha sabar untuk mampu memahami maksud yang diinginkannya. Kadang sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang tengah disampaikan, namun ya itu tadi, kembali ke gaya..! Bahkan istilah pencitraan itu sendiri, saya curiga bahwa pencitraan yang sesungguhnya bukan dilakukan oleh tokoh-tokoh kita, melainkan oleh media itu sendiri. Tidak heran jika kemudian muncul banyak tokoh yang konon sering melakukan pencitraan, karena medianya sendiri juga gemar pencitraan..!

Mari kita belajar pada Inggris dan US, dimana media disana mampu menjadi sparing partner para politisi. Kecendikiaan sang journalist, kadang melampaui para menteri. Media di kedua negara itu bahkan telah mampu menjadi ujung tombak bangsa dan negaranya. Media mereka adalah batu pelontar bagi setiap kebijakan luar negeri yang akan dibuatnya. Media mereka sangat netral dan tidak bisa dibeli. Hebatnya lagi, ditengah masyarakat yang super matang, masyarakat tidak mudah dikelabui oleh medianya. Mereka sangat arif dalam membedakan mana suara media dan yang mana suara si empu media..? Hehehe..

Akhirnya saya sendiri mengerti, bahwa untuk memilki media yang matang, kita perlu membangun masyarakat yang matang..! Tapi tentu saja, untuk membangun masyarakat yang matang, kita juga memerlukan peran media..! Meski demikian, untuk membentuk masyarakat yang matang, jangan pernah sesekali bergantung pada media..! Kematangan media harus bersumber dari kematangan suatu bangsa, jangan sebaliknya..! Akan sangat bahaya jika kematangan bangsa ini bersumber dari kematangan media yang dimilikinya..!

Ingat, NKRI ini milik bersama rakyat Indonesia, sedangkan media hanyalah milik segelintir pengusaha.
Sejarah negeriku diukir oleh segenap bangsaku, bukan oleh mereka yang sekedar ingin jualannya laku..!
Bangkitlah Indonesiaku..!

citoxnew130

EL MANIK DAN PERAHU KAYU

Barusan saya nyampe di kantor. Sebelum memasuki ruang kerja, saya membiasakan diri untuk menyapa tamu- tamu saya di lobby area dan coffee shop. Ada banyak tamu dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Kebetulan, tamu inilah yang paling menarik di mata saya..!

“Saya El Manik, dari Maluku, Indonesia.” ujarnya bangga menyebut nama Indonesia. Kemudian diapun menyambung pembicaraannya, mengenai bisnis dan harapan keluarganya.
Luar biasa, ditengah perkembangan teknologi yang kian maju, dia masih sempat terpikir untuk menyelamatkan warisan budaya leluhurnya.

Kepada saya dia menyampaikan harapan dan cita-citanya untuk turut aktif mengembangkan wisata bahari sambil memajukan industri perahu kayu di daerahnya dan atau di daerah lain di Indonesia. Sungguh sebuah niat mulia, dan saya bisa melihat wujud nyata dari harapan-harapannya. Saya yakin hal itu bukanlah sebuah mimpi, saya akan bisa dan sangat bisa untuk mewujudkannya..! Insya Allah..

Ketika harus meninggalkan para tamu, sepanjang jalan menuju ruang kerja, lamunan saya tertuju pada kenangan masa kecil di Indonesia dulu. Saya pernah menonton sebuah film nasional di TVRI, yang kebetulan dibintangi oleh seorang aktor yang juga bernama El Manik. Dalam film tersebut, El Manik memerankan sebagai seorang nelayan yang dihianati oleh rekannya yang curang dan menginginkan isterinya. Saat pergi jauh berlayar, mereka singgah di sebuah pulau kosong. Di pulau itulah El Manik dikhianati. Perahunya dihancurkan dan kemudian ditinggal sendirian. Dalam segala keterbatasan yang ada, dia memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia. Batang kayu yang ditemukannya, dipahat dengan batu dan akar-akar kayu yang lebih keras. Hingga beberapa tahun kemudian, kayu yang diolahnya menjelma menjadi sebuah perahu yang amat sederhana. Dengan perahu itulah, dia berusaha untuk kembali menemui isteri dan keluarga tercintanya. Tak perduli ombak dan badai, kekuatan cinta telah menyatukan kembali dua hati yang telah terpisah. Disaksikan derai tangis handai taulan dan dendam kesumat para warga, sang nelayan itu kembali bersandar di pelabuhan tempat cinta sejati menantinya. Perahu itu, dalam terpaan ombak pantai, menjadi saksi dan warisan budaya tersendiri, seolah ingin berkata, jangan lupakan aku..! Hehehe…

Ya, saya teringat pada sosok perahu itu, dan kebetulan saya pernah tinggal dan singgah di beberapa daerah di Indonesia. Kita memiliki warisan budaya dalam pembuatan perahu dan kapal-kapal kayu..! Sangat disayangkan jika kemahiran yang telah ada sejak lama harus musnah tergerus oleh sebuah peradaban. Sebagai sebuah bangsa yang beradab, haruskah kita membiarkan segalanya musnah tak bersisa?

Mari kita kenali lagi bangsa ini, agar cinta kita kembali bersemi…

dedenew243

ESOK MALAM KAN KU JELANG..!

Jangan suka terlalu memilih..! Itu adalah pesan ibunda yang masih selalu terngiang di telinga..!
Begitupun dalam berteman ataupun sekedar mendengarkan lagu, kami dibiasakan untuk menerima dan menikmati apa yang ada dan tersaji di depan mata..!

Judul di atas sejatinya adalah judul sebuah lagu lantunan suara emas Grace Simon, tapi di malam minggu kemarin, lagu itu menjadi sebuah lantunan suara mas Yayan..! Hahaha..! Jujur, dulu saya kurang menyukai lagu tersebut setiap kali mendengar ibunda melantunkannya..! Sepertinya saat itu saya gagal faham terhadap makna syair yang dikandungnya..!

Baik ibunda maupun ayahanda, memiliki pekerjaan masing-masing, yang berada bukan hanya di kota yang berbeda, bahkan lebih sering berada di negara dan benua yang berbeda..! Tidak heran jika kemudian, pertemuan kami selalu menjadi momen sakral yang amat mengharukan. Dan bila pertemuan itu menemukan titik usai, air matapun senantiasa hadir memenuhi janji nalurinya..! Kami akan tenggelam dalam danau galau yang amat dalam, sehingga lagu sendu itupun mengalun dari balik denting piano yang dimainkan ayahanda dengan penuh penghayatan. Tidak jelas, entah untuk siapa lagu itu didendangkan, namun kemudian kami menyadari, bahwa lagu itu kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kami yang sangat sering terpisah-pisah..!

Malam minggu yang lalu, saya harus kembali meninggalkan Terengganu, setelah sekian bulan memoles salah satu hotel dalam group perusahaan kami. Dari 32 unit hotel yang kami miiki, tidak semuanya berjalan dengan hasil yang amat memuaskan, bahkan ada diantaranya tergolong dalam kriteria sekarat. Entah sebuah takdir atau kebetulan, dalam induk perusahaan kami, saya telah lama dikenal sebagai manager specialis menangani unit usaha yang tengah krisis. Sebenarnya sebuah predikat yang cukup membanggakan, namun jika melihat bagaimana kami harus bekerja keras untuk membalikkan keadaan, semuanya sepakat bahwa kerja kami sangat melelahkan..!

Namun saya pikir dari sini pulalah spirit team work itu lahir dan tumbuh dengan subur..! Kerjas keras dan cerdas telah menyebar ke seluruh lapisan karyawan. Sehingga kami merasakan bahwa kami bukan lagi hanya sebagai rekan dan tandem kerja, melainkan juga saudara..! Dalam waktu yang tidak lama, hotel kami yang dulunya sepi, kembali menemukan aura dan daya pamornya..! Puncaknya adalah di saat menjelang tahun baru kemarin, hotel kami mencatatkan jumlah revenue terbesar dari seluruh hotel yang tergabung dalam group perusahaan. Malam minggu kemarin saya menunaikan janji saya untuk membagikan bonus yang telah dijanjikan, namun juga sekalian pamitan karena kantor pusat telah memanggil pulang..!

Dalam derai tawa, ternyata linangan air mata menghiasi pipi-pipi mereka. Saya mengerti, tapi biarlah semua ini terjadi dan menjadi bagian dari sebuah memori. Saya bahagia, karena meski ada bulir air mata, saya masih bisa melihat ada banyak butir bahagia. Mereka telah bekerja keras, kini sedang menikmati buah manis dari hasil perjuangannya. Rasa rendah diri yang dulu begitu amat kentara, kini telah sirna dan berganti oleh rasa percaya diri yang kokoh tiada tara..! Selamat berjaya sahabatku, siapapun bisa meraih dan mengecapi rasa itu..! Kita tidak sedang berpisah..!

Sumber

Komentar ditutup.