​COTO YANG DIRINDUKAN

Posted: 21 September 2016 in Uncategorized

Di dinding satu warung coto di Makassar, terpampang tulisan ini:  “Kalau puas beritahu teman, kalau tidak puas beritahu Haji Kanang.”   
Ini kota, Makassar, pusat aneka makanan yang khas. Yang memanggil-manggil. Yang dirindukan. Segala rasa, segala isi. Daging, ikan, beras dan tepung. Siapa ke Makassar dan tak makan-makan, tak mencobai segala rasa masakan, adalah serugi-ruginya pelancong. 
Makassar punya coto, konro, pallubasa, pallumara, ikan bakar, sop ubi, sarabba dan ubi goreng, mi kering dan warung kopi. Warung-warung dengan citarasa yang khas menjamur di seantero kota. Semua menjual, (hampir) semua punya semboyan — seperti Warung Coto Haji Kanang. 
Pemilik warung memampang kalimat untuk diingat. “Asli Daging Lokal”, “Coto Asuhan Daeng Mappe, pindahan Jalan Serigala”, “Warung Anu, Tidak Buka Cabang di Tempat Lain”, “Berdiri Sejak  1976”, dan lain-lain. Aneka rasa, aneka semboyan.
Saya ingat zaman sekolah di Jalan Gunung Bawakaraeng, pusat kota Makassar. Di samping sekolah ada Jalan Sungai Cerekang, tempat warung sop ubi dan minuman sarabba yang buka hingga dinihari. Tak jauh dari warung ini ada penyewaan buku cerita silat Kho Ping Hoo, Gan KL, Wiro Sableng dan aneka roman picisan. Jika punya uang jajan lebih, di malam hari, saya akan mampir menikmati wedang jahe khas Makassar, sarabba dan sepiring ubi goreng dengan saos melimpah. Daya tarik warung Jalan Sungai Cerekang bukan hanya karena dekat penyewaan murah buku Kho Ping Hoo, tapi anak pemilik warung yang cantik dan ramah. Pengunjung menyesap sarabba panas seraya curi-curi pandang.  Sampai meninggalkan kota itu, saya bahkan tak pernah tahu nama perempuan ini. Sampai kemarin ….. ceileeee.
Di Makassar ada warung mie legendaris, warung Mie Titi di Jalan Irian dan kini buka cabang di mana-mana, termasuk di Jakarta. Juga ada Bakso Ati Raja di Jalan Gunung Merapi yang kini bahkan dikemas untuk oleh-oleh ke berbagai kota di Indonesia. Anak sekolahan dan mahasiswa Makassar juga tak mungkin lupa gerobak mie Marten di Pantai Losari yang entah di mana pula kini.
Yang suka aneka nasi campur, Rumah Makan Pate’ne di Jalan Sulawesi dan Restoran Nyoto di Somba Opu — dua rumah makan itu masih berdiri, rasa makanannya tak berubah, dan yang istimewa, ini tempat kencan paling murah. Hanya sepiring nasi campur, tapi berbusa-busa kata cinta…  hehe
Coto Makassar ada di seluruh sudut kota, terutama di Jalan Nusantara, Jalan Gagak, Jeneberang, Jalan AP Pettarani, jalan… ah, di semua jalan. 
Warung ikan bakar depan Pelabuhan Paotere, siapa tak kenal? Panas, berasap, antri, tapi pengunjung tak pernah surut. Di sini, makan sembari memandang pucuk tiang layar kapal-kapal kayu dari jauh, adalah bersantap dalam romantisme bangsa bahari — meski seumur-umur mungkin tak pernah menyentuh air laut.
Kios Lagaligo di Jalan Lagaligo dengan makanan aneka rasa, dan dulu jadi tempat nongkrong para makelar mobil bekas. Dulu berkembang cerita — entah benar, entah salah — sang pemilik diamuk asmara lalu berpisah. Kios Lagaligo dikelola istri dan anak, dan sekarang buka cabang di beberapa tempat, lalu sang suami kini buka Restoran Madam Wong di sudut Jalan Arif Rate.
Warung Bakso Bina Ria legendaris  tak jauh dari Masjid Raya, tempat makan yang ramai setiap siang. Saban Jumat, menjelang sholat, para pengunjung baru beranjak ke masjid pada khotbah kedua. Warung ini kini sudah tutup, beralih nama dan tempat jadi Warung Niagara di samping Restoran Madam Wong.
Di Jalan Ratulangi seberang Hotel Sahid, ada Restoran Pelangi yang dulu terkenal dengan mie dan fu yung hai. Anda yang di Jakarta tentu karib dengan Restoran Pelangi di Menteng dan Kelapa Gading yang dikelola anak-anak pemilik Pelangi di Makassar.
Tentu masih banyak pula yang ingat Gado-Gado Ratna Juwita di Jalan Ranggong. Aktivis dan pengurus senat mahasiswa kerap menggelar pesta di sini. Kasirnya perempuan, anak pemilik warung dan tak pandai menggunakan kalkulator. Tapi ia sungguh jitu dalam menebak harga makanan dan tak pernah salah menghitung uang kembalian. 
Jangan lupa Coto Kuda Batu Putih yang punya menu istimewa di setiap hari Jumat: gantala’. Di sini, dulu, para pengunjung kerap berdebat soal halal-haram memakan daging kuda.
Lalu ada Sop Haji Inam di Jalan Cenderawasih, Nasi Kuning RRI di Jalan Riburane. 
Kota Makassar. Begitu banyak warung makan yang dirindukan.
Seusai bersantap di warung-warung itu, menjelang siang, sore atau selepas malam, orang-orang di Makassar meramaikan warung kopi. Di tempat teratas ada Kafe Phoenam di Jalan Jampea dan Boulevard Panakkukang Mas. Tapi kafe ini sudah terlalu sering diceritakan…. Hehe.
Di Makassar kini, warung kopi bak jamur di musim hujan. Muncul di mana-mana. Saya kerap datang ke Kafe Daengna, milik pasangan suami istri insinyur teknik. Warung ini berbatas dinding dengan warung ikan bakar, tak jauh dari Rumah Sakit Luramay.

  

Dan Kafe Dottoro’  yang ramai di Jalan Veteran Selatan. Dulu nama warung ini Kafe Daeng Naba. Suatu hari, kawan saya Husain Abdullah yang kerap datang ke sini berkelakar: minum kopi dan makan di Daeng Naba seperti obat bagi pengunjungnya. Entah obat apa gerangan, tapi sang pemilik mendapat ilham untuk mengubah nama warung jadi Kafe Dottoro’ (kafe dokter).
Begitulah. Anda yang ke Makassar, jangan datang dan tak makan-makan. Di sana ada segala rasa, segala menu, segala harga dan segala waktu. Semua memanggil-manggil, mengetuk-ngetuk kerinduan pada kota Makassar.  
Kalau puas beritahu teman, kalau tak puas beritahu Haji Kanang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s